Usai Serangan, Tunisia Tutup Perbatasan dengan Libya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga di tempat kejadian ledakan bus di Tunis, Tunisia, 24 November 2015. Polisi belum bisa memastikan penyebab ledakan, apakah bom yang diledakkan atau bahan peledak ditembakkan ke bus tersebut. AP/Hassene Dridi

    Polisi berjaga di tempat kejadian ledakan bus di Tunis, Tunisia, 24 November 2015. Polisi belum bisa memastikan penyebab ledakan, apakah bom yang diledakkan atau bahan peledak ditembakkan ke bus tersebut. AP/Hassene Dridi

    TEMPO.CO, Tunis - Tunisia menutup perbatasannya dengan Libya, Selasa, 8 Maret 2016, setelah terjadi serangan yang diduga dilakukan milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di garis depan. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 53 orang tewas.

    Sejumlah pria bersenjata di sebelah timur Kota Ben Gardane pada Senin, 7 Maret 2016, melakukan serangan hingga dinihari waktu setempat. Perdana Menteri Tunisia Hassi Essid mengatakan serangan tersebut dilancarkan oleh ISIS yang menguasai kawasan perbatasan.

    "Serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya, direncanakan dan diorganisasi. Tujuannya mungkin untuk mengambil alih daerah ini dan mengumumkan emirat (kepemimpinan) baru," kata Presiden Tunisia Beji Caid Essebi.

    Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertahanan dalam pernyataan bersama mengatakan telah meninjau perlindungan perbatasan yang belakangan terjadi peningkatan ketegangan. Pasukan keamanan dan militer melakukan serangan di Ben Gardane pekan lalu setelah pejabat keamanan Tunisia menyebutkan bahwa ada sekelompok teroris menyusup ke Tunisia.

    Para penyerang secara simultan menyasar barak militer dan pos polisi menggunakan senjata berat, termasuk roket peluncur granat. Akibat kejadian tersebut, pemerintah memberlakukan jam malam di Ben Gardane.

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?