Dituding Korupsi, PM Malaysia Najib Kunjungi Saudi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Malaysia Najib Razak. AP/Vincent Thian

    PM Malaysia Najib Razak. AP/Vincent Thian

    TEMPO.COPetalingjaya - Perdana Menteri Malaysia Najib Rajak menyampaikan ucapan terima kasih kepada Raja Arab Saudi Abdullah atas dukungan kerajaan terhadap negaranya. Ucapan itu disampaikan dalam sebuah pidato sebelum melakukan pertemuan dengan Raja Abdullah, Rabu, 2 Maret 2016. Najib ke Saudi dalam rangka meningkatkan kerja sama antarnegara muslim.

    Lawatan kenegaraan Najib itu dilakukan setelah Jaksa Agung Malaysia pada Januari 2016 memutuskan tidak melanjutkan tuduhan korupsi yang dialamatkan kepada dia. Sebelumnya, Najib dituding menerima uang sebesar US$ 681 juta atau Rp 6,03 triliun dari keluarga kerajaan untuk kepentingan pribadi.

    "Semua donasi dari keluarga kerajaan telah dikembalikan oleh Najib," ujar jaksa.

    Meski demikian, Najib mendapat kritik dari dalam negeri mengenai tuduhan menerima uang miliar rupiah ke kantong pribadi yang berasal dari 1MDB, sebuah perusahaan yang pernah dia dirikan pada 2009.

    Berbicara pada sebuah forum ekonomi, Selasa, 1 Maret 2016, di Kota Jeddah, Saudi, Najib mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kerajaan. "Saya secara pribadi ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Kerajaan Arab Saudi atas semua dukungannya selama beberapa dekade," ucapnya.

    "Saya bangga mengatakan bahwa kita seperti saudara," tambahnya mengacu pada hubungan Saudi-Malaysia. Pasukan Malaysia turut ambil bagian bersama koalisi 34 negara untuk memerangi kelompok teroris pimpinan Saudi. 

    Menurut laporan kantor berita Saudi Press Agency, pertemuan antara Najib dan Raja Abdullah adalah untuk membicarakan hubungan bilateral dan memperkuat kerja sama ekonomi.

    AL ARABIYA | CHOIRUL AMINUDDIN
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.