Kamerun Bebaskan Ratusan Sandera Boko Haram  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa lokasi ledakan yang menghantam markas polisi di Yola, Nigeria, 25 Februari 2016. Diduga kelompok Boko Haram bertanggung jawab atas ledakan misterius ini. REUTERS

    Petugas memeriksa lokasi ledakan yang menghantam markas polisi di Yola, Nigeria, 25 Februari 2016. Diduga kelompok Boko Haram bertanggung jawab atas ledakan misterius ini. REUTERS

    TEMPO.CO, Chibok - Pasukan Kamerun dan Nigeria berhasil membebaskan ratusan sandera yang ditahan di kota perbatasan oleh Boko Haram, termasuk para gadis muda yang dilatih menjadi pelaku bom bunuh diri.

    "Selain itu, bala tentara dari kedua negara tersebut membunuh sekitar 100 militan saat mereka membebaskan Kota Kumshe, Nigeria," kata Jenderal Jacob Kodji kepada Associated Press. Kota tersebut terletak sekitar 15 kilometer dari perbatasan Kamerun.

    "Anak-anak kami masih di medan tempur bersama pasukan Nigeria dan telah menerima instruksi melanjutkan tekanan terhadap seluruh posisi Boko Haram di desa-desa perbatasan hingga kami berhasil menumpas mereka," ujar Jenderal Kodji.

    Boko Haram mulai melakukan pemberontakan sejak 6 tahun lalu di Nigeria. Sejak itu, mereka meningkatkan serangan ke negara Kamerun Nigre dan Chad setelah mereka mendapatkan bantuan dari kelompok militer di sekitar kawasan negeri itu.

    Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amnesty International, kelompok militan yang berjanji setia terhadap perjuangan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) itu telah membunuh lebih dari 20 ribu orang dan mengakibatkan 2,8 juta orang kehilangan tempat tinggal di Afrika Barat.

    Boko Haram mendapatkan perhatian internasional ketika mereka menculik sekitar 300 gadis sekolah dari Kota Chibok, Nigeria. Puluhan orang berhasil melarikan diri, tapi lebih dari 200 gadis Chibok hilang.

    AL ARABIYA | CHOIRUL AMINUDDIN
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.