Obama Berusaha Tutup Penjara Kontroversial Guantanamo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan tahanan Guantanamo melakukan sholat di  Clearview, Hamilton, pulau Bermuda (16/6). Mereka dipindahkan dari Guantanamo, setelah mendekam detainee selama tujuh tahun. Foto: AP/Brennan Linsley

    Mantan tahanan Guantanamo melakukan sholat di Clearview, Hamilton, pulau Bermuda (16/6). Mereka dipindahkan dari Guantanamo, setelah mendekam detainee selama tujuh tahun. Foto: AP/Brennan Linsley

    TEMPO.COJakarta - Gedung Putih mengungkapkan rencana penutupan penjara Teluk Guantanamo yang kontroversial. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan jangka panjang Presiden Barack Obama sejak lama.

    Pentagon mengusulkan pemindahan 91 orang sisa tahanan ke negara asal mereka atau ke penjara militer atau sipil Amerika. Namun Kongres sangat menentang tersangka teror ditahan di wilayah Amerika dan diperkirakan akan menghambat ini. Penjara Guantanamo memerlukan biaya operasi US$ 445 juta atau setara dengan Rp 5,9 triliun, dan penutupannya merupakan janji awal Presiden Obama.

    Pejabat tinggi pemerintah mengatakan kepada para wartawan hari Selasa, 23 Februari 2016, bahwa penutupan penjara itu merupakan suatu keharusan bagi keamanan nasional.

    "Penerapan rencana ini akan meningkatkan keamanan nasional dengan cara menolak simbol propaganda kuat teroris, memperkuat hubungan dengan sekutu penting dan rekan antiterorisme, serta pengurangan biaya," kata pejabat pers Pentagon, Peter Cook.

    Presiden Obama, yang akan menyelesaikan masa jabatan kedua dan terakhir pada Januari 2017, mengatakan penting untuk tidak melewatkan masalah ke penggantinya.

    "Menjaga fasilitas terbuka ini bertentangan dengan nilai-nilai kami. Ini melemahkan posisi kami di dunia. Hal ini dipandang sebagai noda pada catatan kami yang lebih luas dari menegakkan standar tertinggi aturan hukum.”

    BBC | ABDUL AZIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?