58 Imigran Tersangka Pelecehan Seksual Tahun Baru di Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah perempuan meneriakkan slogan bernada protes menentang kekerasan seksual di stasiun kereta api Cologne, Jerman, 6 Januari 2016. 90 perempuan dilaporkan mengalami serangan seksual dan perampokan yang dilakukan para pria di dekat Gereja Katedral Cologne saat malam Tahun Baru. REUTERS/Wolfgang Rattay

    Sejumlah perempuan meneriakkan slogan bernada protes menentang kekerasan seksual di stasiun kereta api Cologne, Jerman, 6 Januari 2016. 90 perempuan dilaporkan mengalami serangan seksual dan perampokan yang dilakukan para pria di dekat Gereja Katedral Cologne saat malam Tahun Baru. REUTERS/Wolfgang Rattay

    TEMPO.CO, Cologne - Polisi Jerman menangkap 58 tersangka pelaku pelecehan seksual saat malam Tahun Baru di Cologne. Hanya 3 di antara mereka yang pengungsi.

    Selama ini, pengungsi disalahkan atas lebih dari 1.000 laporan pencurian, pelecehan seksual dan pemerkosaan di stasiun kereta api pusat Cologne. Tuduhan ini memicu kritik terhadap kebijakan pintu terbuka Kanselir Angela Merkel.

    Jaksa Penuntut Umum Cologne Ulrich Bremer menyebutkan, sebagian besar tersangka adalah imigran. Di antaranya, 25 orang Algerian, 21 dari Maroko, 3 dari Tunisia dan 3 warga negara Jerman.

    Bagaimanapun, imigran-imigran tersebut telah lama masuk Jerman. “Sehingga mereka tidak termasuk kategori pengungsi,” kata kepada surat kabar Jerman Die Welt, Ahad 14 Februari 2016 lalu waktu setempat.

    Menurut Bremer, hanya ada 3 tersangka yang masuk Jerman bersama gelombang pengungsi setahun belakangan. Dua warga Suriah dan satu Irak.

    Sebelumnya, kepolisian Cologne menerima 1.054 pengaduan terkait tindakan kriminal di malam Tahun Baru 2016. Meski, sebanyak 600 di antaranya terkait pencurian, bukan pelanggaran seksual.

    Kepala polisi Cologne Jurgen Mathies mengaku belum pernah melihat kejadian di Jerman sebelumnya. Ia mengatakan, tidak ada bukti serangan itu direncanakan dan percaya bila hal tersebut disebarkan melalui jaringan sosial. "Beberapa orang memang pada kenyataannya hanya berkata, 'Hei, kita akan ke Cologne, akan ada pesta besar'," jelas Mathies dilansir The Independent, Senin 15 Februari 2015.

    DIE WELT | THE INDEPENDENT| PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.