Rusia Bakal Usulkan Gencatan Senjata di Suriah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pelanggan dibalut oleh handuk saat beristirahat setelah melakukan mandi uap tradisional hammam al-Salhiyeh di Aleppo, Suriah, 26 Januari 2016. Hammam Al-Salhiyeh tradisional dibuka kembali setelah empat tahun daerah ini dikuasai oleh pemberontak. REUTERS/Abdalrhman Ismail

    Seorang pelanggan dibalut oleh handuk saat beristirahat setelah melakukan mandi uap tradisional hammam al-Salhiyeh di Aleppo, Suriah, 26 Januari 2016. Hammam Al-Salhiyeh tradisional dibuka kembali setelah empat tahun daerah ini dikuasai oleh pemberontak. REUTERS/Abdalrhman Ismail

    TEMPO.CO, Damaskus - Pasukan pemerintah Suriah dan milisi oposisi kemungkinan akan menyepakati gencatan senjata demi menyelamatkan warga di Aleppo, Suriah. Materi gencatan senjata dan mengakhiri perang saudara di Suriah dibicarakan oleh negara-negara kuat di Jerman, Kamis, 11 Februari 2016.

    Pada Rabu dinihari waktu setempat, 10 Februari 2016, kantor berita Reuters mengutip keterangan pejabat Barat yang tak bersedia disebutkan namanya. Dia mengatakan Rusia mengusulkan sebuah gencatan senjata di Suriah dimulai pada 1 Maret 2016.

    Wartawan Al Jazeera, Gabriel Elizondo, yang berada di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, melaporkan bahwa Duta Besar Rusia untuk PBB tidak bersedia dimintai konfirmasi soal usul gencatan senjata di Suriah. "Tidak ada kesepakatan yang dicapai. Duta Besar Rusia untuk PBB berbicara masalah umum tentang gencatan senjata di Suriah sebagai bagian dari negosiasi. Ketika kami tanya lebih rinci, beliau tidak bersedia menjelaskan lebih banyak," kata Elizondo.

    Kekuatan besar yang akan mengadakan pertemuan di Munich, Jerman, pada Kamis, 11 Februari 2016, itu di antaranya Rusia, Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Iran. "Mereka bertemu di Jerman dalam rangka menghidupkan kembali perdamaian di Suriah," tulis Al Jazeera, Kamis.

    Duta Besar Inggris untuk PBB, Mattew Rycoft, berharap Rusia akan hadir dalam pertemuan Munich, Kamis, dengan membawa gagasan konkret mengenai gencatan senjata di Suriah dan akses bantuan kemanusiaan. Sedikitnya 50 ribu warga Suriah telah mengungsi untuk menghindari pertempuran sengit di Aleppo.

    "Beberapa kawasan di provinsi tersebut membutuhkan suplai air bersih," demikian pernyataan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Rabu, 10 Februari 2016.

    Adapun organisasi pemerhati hak asasi manusia berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights, pada Rabu melaporkan setidaknya 500 warga tewas sejak pemerintah Suriah didukung serangan udara Rusia melancarkan serangan besar dari utara Aleppo pada 1 Februari 2016.

    "Di antara yang tewas itu, terdapat 89 warga sipil, termasuk 23 anak-anak, 143 pejuang pro-pemerintah, 274 pemberontak, dan milisi asing," demikian pernyataan Observatory.

    Saat ini, pasukan pemerintah Suriah menguasai bagian barat Kota Aleppo, sementara pemberontak menduduki wilayah di bagian timur. Namun, Observatory menyatakan, hampir semua wilayah tersebut berada di balik desa-desa yang ada. 

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.