Farmasi Prancis Kembangkan Vaksin Virus Zika  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jentik nyamuk Aedes aegypti diperlihatkan di sebuah lab di institut Fiocruz di Recife, Brasil, 26 Januari 2016. Dalam empat bulan terakhir, Brasil tengah dilanda virus Zika yang diketahui berasal dari nyamuk Aedes aegypti. (Mario Tama/Getty Images)

    Jentik nyamuk Aedes aegypti diperlihatkan di sebuah lab di institut Fiocruz di Recife, Brasil, 26 Januari 2016. Dalam empat bulan terakhir, Brasil tengah dilanda virus Zika yang diketahui berasal dari nyamuk Aedes aegypti. (Mario Tama/Getty Images)

    TEMPO.COJakarta - Perusahaan farmasi Prancis, Sanofi Pasteur, mengumumkan sedang mengembangkan vaksin bagi virus Zika. Vaksin yang sedang dikembangkan diambil dari penelitian mereka terdahulu di Brasil saat membuat vaksin untuk penyakit demam berdarah.

    Sanofi Pasteur menganggap nyamuk yang membawa virus Zika masih satu keluarga dengan nyamuk demam berdarah yang mereka kaji. "Hal ini bisa dimanfaatkan secara cepat untuk memahami penyebaran (virus) Zika," kata perusahaan ini dalam pernyataannya, Selasa, 2 Februari 2016.

    Mereka juga mengatakan penelitian tersebut bisa mempercepat identifikasi kandidat vaksin untuk pengembangan klinis lebih jauh.

    Pihak Sanofi mengatakan langkah ini diambil setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status darurat internasional terkait dengan virus Zika. Namun mereka tak menunjukkan adanya vaksin percobaan untuk diuji coba. Pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

    Pemerintah Amerika sendiri mengumumkan pada minggu lalu bahwa penelitian awal sudah dilakukan untuk membuat vaksin. Dr Anthony Fauci dari National Institutes of Health mengatakan vaksin untuk virus dalam pengembangan yang masih keluarga yang sama, seperti demam berdarah, West Nile, dan chikungunya, dapat memiliki pola untuk membuat hal yang mirip seperti virus Zika.

    Virus Zika sebelumnya banyak disebut sebagai virus jinak dengan gejala yang lebih ringan dibanding demam berdarah. Namun, sejak kejadian besar di Brasil baru-baru ini, para peneliti mulai melaporkan peningkatan salah satu cacat kelahiran, yaitu microcephalus atau penyusutan kepala. Hal ini terjadi pada bayi yang baru lahir. Ia akan memiliki kepala yang sangat kecil.

    EGI ADYATAMA | MEDICALEXPRESS.COM

    Baca juga:
    Kasus Masinton Pasaribu, PDIP Kaget Dita Aditia Disebut Kader Nasdem

    Tersentuhnya Hati Messi kepada Bocah Afghanistan Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.