Dibahas WHO, Virus Zika Lebih Buruk daripada Ebola  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster mengenai virus Zika terpasang di dinding ruang periksa dokter kandungan di rumah sakit di  Guatemala City, Guatemala, 28 Januari 2016. Virus ini dapat menyebabkan bayi lahir cacat, dengan kelainan microchefalus. REUTERS/Josue Decavele

    Poster mengenai virus Zika terpasang di dinding ruang periksa dokter kandungan di rumah sakit di Guatemala City, Guatemala, 28 Januari 2016. Virus ini dapat menyebabkan bayi lahir cacat, dengan kelainan microchefalus. REUTERS/Josue Decavele

    TEMPO.CO, London - Virus Zika yang merebak di negara-negara Amerika Latin, menurut para ahli kesehatan, memiliki dampak lebih besar terhadap kehidupan manusia dibandingkan dengan Ebola, virus yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang di Afrika.

    Pendapat tersebut disampaikan para ahli kesehatan menjelang pertemuan darurat yang digelar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin, 1 Februari 2016. Para ahli kesehatan itu mengatakan ancaman Zika dapat menimbulkan krisis kesehatan dunia.

    "Dalam beberapa kasus, serangan virus Zika dampaknya lebih buruk daripada epidemi Ebola pada kurun waktu 2014-2015," kata Jeremy Farrar, Kepala Wellcome Trust, yayasan amal yang bergerak di bidang kesehatan dunia.  

    Farrar menerangkan, "Hampir seluruh pembawa virus ini bergerak tanpa menunjukkan gejala. Dia menyerang diam-diam individu, terutama terhadap  perempuan hamil sehingga membahayakan jiwa jabang bayi."

    Mike Turner, rekan Farrar di Wellcom Trust, menambahkan, berbeda dengan Ebola, sampai kini belum ditemukan vaksin yang dapat mengatasi Zika. "Masalahnya sekarang, untuk mengembangkan vaksin pelawan Zika, harus dilakukan uji coba terhadap perempuan hamil. Ini mimpi buruk bagi praktek dan etika kedokteran."

    Dalam beberapa tahun pengembangan Zika, Farrar menjelaskan, virus ini dikembangbiakkan oleh spesies nyamuk Aedes aegypti. "Virus berkembang cepat, terutama di daerah tropis, didukung pula oleh pemanasan global," kata Ferrara.

    Untuk mengatasi virus Zika yang dibawa nyamuk, bisa dengan pembasmi Aedes aegypti menggunakan DDT. Menurut Ferrara, cara inilah yang paling memungkinkan. "Kita memang harus menyeimbangkan antara masalah lingkungan atas penggunaan DDT dan dampak virus terhadap bayi yang belum dilahirkan," ucapnya.



    GUARDIAN | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.