10 Hal tentang Tsai Ing-wen, Presiden Wanita Pertama Taiwan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua dan calon presiden dari Partai Progresif Demokratik (DPP) Taiwan, Tsai Ing-wen menyapa pendukungnya saat kampanye terakhir menjelang pemilu di Taipei, Taiwan, 16 Januari 2016. Tsai Ing Wen akan menjadi presiden setelah partai berkuasa, Kuomintang (KMT), mengaku kalah dalam hitung cepat hasil pemilu. REUTERS/Pichi Chuang

    Ketua dan calon presiden dari Partai Progresif Demokratik (DPP) Taiwan, Tsai Ing-wen menyapa pendukungnya saat kampanye terakhir menjelang pemilu di Taipei, Taiwan, 16 Januari 2016. Tsai Ing Wen akan menjadi presiden setelah partai berkuasa, Kuomintang (KMT), mengaku kalah dalam hitung cepat hasil pemilu. REUTERS/Pichi Chuang

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Partai Progresif Demokratik (DPP) Tsai Ing-wen membuat sejarah pada Sabtu,16 Januari 2016, dengan menjadi wanita pertama yang menjadi presiden di Taiwan.

    Wanita berusia 59 tahun itu  memenangkan 56,12 persen dari lebih dari 12 juta suara dalam pemilihan presiden. Dia mengalahkan ketiga lawan tangguhnya, Eric Chu dari Partai Kuomintang dan James Soong dari Partai Rakyat Pertama.

    Berikut  10 hal tentang Tsai Ing-wen seperti dilansir dari laman Straitstimes, Sabtu, 16 Januari 2016.

    1. Mantan mahasiswa hukum berkacamata itu adalah seorang pekerja keras yang menonjol ketika ia diangkat oleh Presiden Lee Teng-hu mengepalai sekelompok ahli hukum melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa Taiwan bukan bagian dari Republik Rakyat Cina dan merumuskan teori "dua negara".

    2. Tsai pernah menjadi kepala Mainland Affairs Council, lembaga setingkat kabinet yang bertanggung jawab untuk kebijakan lintas-selat dalam administrasi DPP. Dia bergabung dengan DPP pada 2004 dan sempat menjadi wakil perdana menteri di bawah pimpinan mantan Presiden Chen Shui-bian.

    3. Dia membersihkan citra DPP pada 2008 setelah partai itu didiskreditkan oleh skandal korupsi Presiden Chen. Tsai menulis dalam bukunya: "Dalam masyarakat demokratis yang matang, jika tidak ada partai oposisi yang kuat, politik demokratis kemungkinan besar akan mengalami kemunduran. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika aku memilih untuk tidak melakukan apa yang saya tahu, saya bisa."

    4. Wanita Hakka, yang masih bujang, adalah anak bungsu dari seorang pengembang properti yang memulai usahanya sebagai mekanik mobil. Orang tuanya memiliki harapan yang tinggi atas anak-anak mereka dan kecewa lantaran Tsai tidak menghasilkan angka tertinggi dalam setiap ujiannya, tidak seperti saudara-saudaranya yang lebih tua. Tsai mengatakan itu kepada program berita Taiwan tahun lalu.

    5. Dia ingin mempelajari sejarah dan arkeologi, tapi mengejar gelar sarjana hukum karena ayahnya ingin dia membantu mengurus masalah hukum untuk bisnis keluarga. Dia mendapat gelar sarjana hukum dari Universitas Nasional Taiwan, Universitas Cornell, dan dari London School of Economics and Political Science.

    6. Tsai adalah seorang pemikir dan negosiator yang dihormati. Penampilannya yang agak malu-malu kontras dengan politikus DPP yang memiliki reputasi agresivitas dan kecerdasan mereka. Dia tidak dilihat sebagai tokoh karismatik atau pembicara yang hebat, tapi telah memenangkan banyak orang dengan ketulusan, kecerdasan, dan keuletan.

    7. Dia mengatakan sangat mengagumi mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Setelah belajar di Inggris pada 1980-an, Tsai mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia mengagumi fleksibilitas dan kekuatan "Iron Lady". Dia menyatakan kekaguman pada ketegasan Merkel, seperti dikutip dari Guardian.

    8. DPP resmi mendukung kemerdekaan bagi Taiwan, tapi Tsai ingin mempertahankan "status quo" dengan Cina jika dia menjadi presiden. Dalam debat kebijakan bulan lalu, dia tidak berkomitmen pada "konsensus 1992", perjanjian diam-diam antara partai KMT dan Cina yang mengatakan ada "satu Cina" dengan interpretasi yang berbeda. DPP tidak pernah mengakui perjanjian tersebut.

    "Saya percaya hubungan lintas-selat bisa tetap stabil ... Konsensus 1992 adalah sebuah pilihan, tapi itu bukan satu-satunya," katanya.

    9. Ini adalah upaya keduanya bertarung merebutkan posisi kepresidenan. Dia kalah dari kader KMT Ma Ying-jeou dengan perolehan 45,6 persen suara pada pemilu 2012.

    10. Tsai Ing-wen memiliki dua kucing, Think Think dan Ah Tsai, yang oleh Straitstimes dikatakan telah membantunya memenangkan suara di kalangan anak muda.


    STRAITSTIMES | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.