KBRI Tripoli Pulangkan 12 WNI Korban Perdagangan Orang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar RI untuk Libya, Raudin Anwar menggendong salah seorang anak tenaga kerja Indonesia yang dipulangkan bersama ibunya, yang selama ini tinggal di Benghazi, 11 Januari 2016. (KBRI Libya)

    Duta Besar RI untuk Libya, Raudin Anwar menggendong salah seorang anak tenaga kerja Indonesia yang dipulangkan bersama ibunya, yang selama ini tinggal di Benghazi, 11 Januari 2016. (KBRI Libya)

    TEMPO.COTripoli - Kedutaan Besar RI Tripoli memulangkan sebanyak 12 warga negara Indonesia (WNI) yang berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), 11 Januari 2016. Sembilan dari 12 TKI itu adalah  korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Mereka dijadwalkan akan tiba di Jakarta pada Selasa, 12 Januari 2016,  menggunakan pesawat Qatar Airways (QR-956).

    "Dengan pemulangan tersebut, di shelter KBRI sudah tidak ada lagi," kata Duta Besar RI untuk Libya, Raudin Anwar, kepada Tempo.

    Para WNI tersebut awalnya dijanjikan akan dipekerjakan di negara-negara seperti Persatuan Emirat Arab, Oman, dan Turki, namun dengan alasan tidak adanya majikan yang bersedia menerima, mereka dipaksa bekerja di Libya.

    Setelah tiba di Libya, mereka dirundung berbagai permasalahan. Antara lain lamanya waktu kerja, istirahat kurang, gaji tidak dibayar, paspor ditahan majikan atau agen, perlakuan kasar majikan atau agen, dan tidak dibuatkan izin tinggal (iqomah).

    Selain itu, beberapa WNI tiba di Libya dalam kondisi kurang sehat dan tetap dipaksa bekerja untuk menghindari kerugian agen di Libya.

    Padahal situasi keamanan Libya sejak tergulingnya diktator Moamar Kadafy sangat genting. Para majikan TKI banyak yang melarikan diri ke luar negeri dan meninggalkan para pekerjanya di rumah mereka.

    "Majikan mereka sudah meninggalkan rumah berbulan-bulan ke luar negeri. Terus mereka (para TKI) lari ke pos polisi terdekat dan telp KBRI minta dievakuasi," kata Dubes Raudin.

    Besarnya permintaan serta "harga jual" TKI yang cukup mahal di Libya, membuat para pelaku TPPO tetap gencar mengirimkan TKI tanpa mempedulikan keselamatan jiwa TKI itu sendiri.

    Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 260 Tahun 2015, penempatan TKI pada pengguna perseorangan di negara-negara Kawasan Timur-Tengah telah dihentikan dan dilarang.

    Namun, kebijakan Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah tidak menyurutkan langkah para pelaku TPPO untuk mengirim TKI tersebut.

    Jalur yang ditempuh oleh para pelaku TPPO untuk pengiriman TKI ke Libya adalah melalui Jakarta atau Bandung atau Batam – Kuala Lumpur – Istanbul – Mitiga Tripoli.

    "KBRI Tripoli senantiasa mengharapkan dukungan pihak-pihak terkait di Indonesia untuk mencegah setiap WNI yang akan melakukan perjalanan ke Libya dengan tujuan bekerja mengingat pemberlakuan moratorium serta situasi keamanan di Libya yang masih buruk," kata Raudin.

    Saat ini, keamanan kembali memanas dengan serangan ISIS ke Pusdiklat Kepolisian di Zliten pekan lalu. Dalam serangan truk berisi bom itu lebih dari 60 orang tewas dan ratusan luka-luka.

    ISIS juga menyerang terminal minyak di Ras Lenuf dan Sidra yang menyebabkan lima tangki minyak raksasa terbakar habis.

    Selain para TKI, saat ini di Libya juga terdapat sejumlah mahasiswa WNI. Menurut  Raudin, semuanya dalam kondisi baik. "Mahasiswa ada 26 orang dalam keadaan baik di asrama kampus Kuliah Dakwah Islamiyah Tripoli," kata dia.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.