2015, Momok ISIS dan Pengungsi Benua Biru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan keamanan Irak, membentangkan bendera nasionalnnya diatas kendaraan militernnya di komplek pemerintahan di Ramadi, 28 Desember 2015. Pasukan Irak berhasil merebut komplek pemerintahan Ramadi dari ISIS, setelah dikuasainya sejak Mei lalu. AP/Osama Sami

    Pasukan keamanan Irak, membentangkan bendera nasionalnnya diatas kendaraan militernnya di komplek pemerintahan di Ramadi, 28 Desember 2015. Pasukan Irak berhasil merebut komplek pemerintahan Ramadi dari ISIS, setelah dikuasainya sejak Mei lalu. AP/Osama Sami

    TEMPO.CO, Jakarta - Tahun 2015 adalah kalender krisis pengungsi dan kekerasan yang mendera sebagian dunia.

    Badan Dunia untuk Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi untuk Migrasi Internasional (IOM) melansir laporan bersama yang menyebut 1 juta lebih imigran dan pengungsi tiba di Eropa selama 2015.

    Lebih dari 970 ribu di antaranya mendarat setelah mengarungi pelayaran berbahaya melintasi gelombang Laut Mediterania.

    Seperti dilansir Voice of America dan Al Jazeera, UNHCR menyebut sekitar 80 persen dari mereka, yakni 821.008 orang, menyeberang dari Turki menuju Yunani, negara yang tidak memiliki kapasitas cukup untuk menampung mereka. Juru bicara UNHCR, Adrian Edwards, mengatakan sedikitnya separuh jumlah orang yang tiba itu adalah pengungsi dari Suriah.

    Perang saudara di Suriah pula yang tahun ini memasuki tahun keempat, bersama konflik sektarian di Irak, yang mengentalkan kekerasan berdarah dari kelompok militan bersenjata “kekhalifahan” yang mengklaim diri Islamic State of Iraq and  al-Sham (ISIS) atau ISIL alias Daesh.

    Momok ISIS pada 2015 diawali penembakan ke kantor redaksi Charlie Hebdo, Paris, Prancis, lalu eksekusi brutal seorang pilot Yordania yang ditawan. Selanjutnya episode kekejaman Jihadi John yang menggorok para sandera warga asing yang direkam di video.

    November lalu, serangan eksponen ISIS di Paris menewaskan sedikitnya 130 orang sipil dan puluhan lainnya terluka. Pada pengujung tahun, terungkap lembar-lembar dokumen tentang hukum ISIS yang membolehkan mereka menjarah organ tubuh sandera meskipun berisiko fatal, demi menyelamatkan loyalisnya. Terakhir, fatwa mengenai pedoman praktek-praktek hubungan seks tuan dengan wanita yang menjadi budaknya.     

    Tim TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.