Senin, 23 Juli 2018

Trump Larang Muslim Masuk AS, Bikin Cinta atau Benci?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donald Trump. Getty Images

    Donald Trump. Getty Images

    TEMPO.CO, Washington, DC - Popularitas kandidat calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, dilaporkan semakin tinggi dan mendapat dukungan kuat dari warga AS setelah melontarkan pernyataan yang melarang warga muslim memasuki Negeri Abang Sam.

    Saat Trump tengah berteriak dengan lantang menolak kedatangan warga muslim dari luar negeri ke AS, ratusan pendukungnya yang hadir dalam kesempatan tersebut lantas menyambutnya dengan teriakan "setuju".

    "Kita perlu menutup total pintu masuk bagi muslim ke Amerika Serikat sampai perwakilan negara mengetahui apa yang sedang terjadi," katanya, mendorong raungan besar dari kerumunan sekitar 500 pendukung setia Trump yang berdiri sebagai bentuk persetujuan.

    "Hell yeah!" teriak pria berkaus "Bikers untuk Trump". Di sampingnya, seorang pria berjaket kulit ditutupi lencana angkatan udara mengangkat kedua tangan tinggi ke udara sebagai tanda kemenangan. "Mereka (muslim) harus pulang," seorang wanita berteriak.

    Trump selama ini selalu memenangi jajak pendapat terkait dengan pencalonannya di partai tersebut sejak 20 Juli lalu. Sebelumnya, para pakar memprediksi kampanye itu akan menurunkan pamor Trump menyusul pernyataan rasisme terbarunya tersebut.

    Namun, berdasarkan wawancara dengan beberapa warga, tampaknya Trump berada di jalur kemenangan. "Aku benar-benar menyukai kejujurannya," kata Steve Connors, siswa SMA berusia 18 tahun yang memilih pada November tahun depan untuk pertama kalinya.

    "Dia berbicara bahasa kita," kata David Moreau, seorang veteran tentara berusia 70 tahun, yang telah mendukung kandidat Demokrat dalam setiap pemilihan presiden sejak Lyndon Johnson pada 1964. Tahun depan, suaranya akan pergi ke Donald Trump.

    Selain itu, seruan Trump disambut dengan antusias oleh banyak pendukungnya melalui media sosial. "Saya berpikir kita harus melarang setiap muslim datang karena kita tidak bisa mengidentifikasi apa sikap mereka," kata Charlie Marzka, 75 tahun, dari Myrtle Beach, Carolina Selatan.

    Trump menyampaikan hal itu setelah hasil sigi terbaru menunjukkan sebagian besar muslim di Amerika menyetujui perlu diberlakukan hukum syariah di AS. Namun Trump mengaku seruannya itu tidak berlaku untuk muslim di dalam negeri, melainkan muslim yang hendak memasuki AS, baik imigran maupun wisatawan.

    Selain muslim, Trump sebelumnya mangatakan dalam kampanyenya bahwa 11 juta warga Meksiko dan Amerika Latin lainnya yang disebutnya sebagai Hispanik akan dideportasi olehnya jika nanti ia terpilih menjadi orang nomor satu di AS.

    CNN.COM | GUARDIAN.CO. UK | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.