Penembakan Massal Marak, Obama Minta Senjata Api Diatur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mahasiswa mengangkat tangannya saat dievakuasi dari lokasi penembakan massal di kampus Umpqua Community College, Roseburg, Oregon, 1 Oktober 2015. Pelaku dipersenjatai dengan tiga pistol dan sebuah senapan panjang AR-15. Michael Sullivan/The News-Review/AP

    Sejumlah mahasiswa mengangkat tangannya saat dievakuasi dari lokasi penembakan massal di kampus Umpqua Community College, Roseburg, Oregon, 1 Oktober 2015. Pelaku dipersenjatai dengan tiga pistol dan sebuah senapan panjang AR-15. Michael Sullivan/The News-Review/AP

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyerukan segera diadakan perombakan dalam Undang-Undang senjata api. Tujuannya untuk membuat kejadian penembakan masal di AS berkurang. Pernyataan tersebut ia sampaikan melalui siaran CBS News sesaat setelah terjadi insiden penembakan masal di San Bernadino, California pada Rabu, 2 Desember 2015.

    Ia juga mendesak anggota parlemen untuk mengeluarkan undang-undang tersebut. “Kami bisa memiliki daftar (TSA) nama-nama yang tidak boleh terbang dengan pesawat, tapi tidak memiliki undang-undang yang mengatur kebebasan membeli senjata di toko-toko dengan bebas. Itu yang perlu diubah,” kata Obama.

    Menurutnya, pemerintah AS memang mengaku belum mengetahui motif dari penembak dalam insiden San Bernardino, tetapi pemerintah sudah seharusnya memiliki langkah-langkah yang bisa diambil untuk membuat Amerika lebih aman. “Kita seharusnya tidak berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang hanya terjadi dalam kegiatan acara karena tidak terjadi dengan frekuensi yang sama di negara lain,” ujar Obama.

    Insiden penembakan terjadi di kawasan pusat fasiltas difabel, San Bernadini, California, Rabu 2 Desember 2015. Setidaknya 14 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat insiden tersebut. Selain itu, ditemukan juga sebuah benda yang diyakini sebagai bahan peledak. Terkait dengan hal tersebut, tim penjinak bom juga berada di lokasi tersebut untuk melakukan penjiakan.

    Penembakan ini terjadi kurang dari satu minggu setelah seorang penembak menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya dalam penembakan membabibuta di klinik Planned Parenthood di Colorado Springs, Colorado. Bulan Oktober lalu seorang penembak juga membunuh sembilan orang di sebuah kampus di Oregon dan pada bulan Juni seorang penembak kulit putih membunuh sembilan jemaat gereja kulit hitam di South Carolina.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.