Di COP21, Hashim Djojohadikusumo: Penting Buat Pengusaha

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hashim Djojohadikusumo. indo.wsj.com

    Hashim Djojohadikusumo. indo.wsj.com

    TEMPO.CO, Paris - Conference of Parties 21 (COP 21 Paris) atau Konferensi International Perubahan Iklim tak hanya didatangi oleh kepala negara dan pemerintah. Melainkan juga pengusaha. Salah satunya Hashim Djojohadikusumo, Presiden Direktur Asrari Group, perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan.

    "Konferensi ini penting buat pengusaha," kata Hashim, yang juga adik kandung dari Prabowo Subianto kepada Tempo di Pavilion Indonesia, Le Bourget Exhibition, Senin, 30 November 2015. Hashim datang ke konferensi ini sebagai anggota Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia.

    Hashim mengatakan, asosiasinya ingin mengenalkan sistem tanam hutan yang baru. Yakni, sistem tumpang sari dari 150 jenis tanaman. "Tapi yang utama adalah aren," kata Hashim.

    Aren, menurut dia, memiliki banyak kegunaan. Salah satunya untuk bahan baku energi nabati. Ini sumber emergi ramah lingkungan. "Bisa jadi bioetanol ataupun biodiesel," tutur Hashim.

    Ihwal tanaman lainnya, Hashim dan para kolega akan menanam tumbuhan lain. Di antaranya, tanaman buah dan umbi-umbian. Dia mengklaim sistem ini sudah dikaji oleh lembaga riset internasional.

    Untuk saat ini, Hashim mengatakan, pilot project sudah dilakukan di Kalimantan Timur. "20 menit dari Balikpapan," kata dia. Luasnya mencapai 120 ribu hektare.

    Hashim mengklaim sistem ini tak hanya menekan karbon. "Tapi juga menyerap karbon ke dalam tanah," ujarnya. Sebelumnya, Tomi Winata, pengusaha yang bergerak di bidang kehutanan juga tampak di COP21.

    COP21 digelar untuk mencapai kesepakatan penurunan emisi global. Tiap negara berbeda target. Target Indonesia mengurangi emisi sebesar 29 persen pasca-2020. COP21 akan dibuka hari ini dan akan ditutup pada 11 November 2015.

    AMRI MAHBUB (PARIS)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.