Kisah Mostefai, Peneror Paris: Terungkap dari Serpihan Jari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara mengevakuasi penonton termasuk seorang korban terluka dalam penyerangan di gedung konser Bataclan, Paris, Prancis, 13 November 2015. Aksi teror di gedung ini menjadi lokasi penyerangan yang paling banyak menimbulkan korban. REUTERS/Christian Hartmann

    Tentara mengevakuasi penonton termasuk seorang korban terluka dalam penyerangan di gedung konser Bataclan, Paris, Prancis, 13 November 2015. Aksi teror di gedung ini menjadi lokasi penyerangan yang paling banyak menimbulkan korban. REUTERS/Christian Hartmann

    TEMPO.CO, PARIS - Kepolisian Paris mulai memburu siapa Omar Ismail Mostefai, terduga teroris yang ditemukan pertama kali tewas usai memberondong warga Paris di Bataclan Concert Hall, Paris, Jumat 13 November 2015. Mostefai, pria berusia 29 tahun yang tinggal di Kota Chartres, timur laut Paris adalah penyerang pertama yang ditembak dan berhasil diidentifikasi.

    SIMAK: TEROR PARIS: Ada Paspor Suriah Dekat Mayat Sang Bomber

    Mostefai adalah bagian dari tiga sel teroris yang disebut Jaksa Paris Francois Molins melakukan serangan terkoordinasi yang menyasar bar-bar, sebuah gedung konser, dan stadion sepak bola hingga menewaskan 129 orang dan melukai 352 orang termasuk 99 dalam keadaan kritis.Sidik jari  Mostefai ditemukan dalam serpihan tangann di ledakan gedung konser Bataclan.  Ia dan enam lainnya yang bersenjata, mengenakan rompi penuh bahan peledak, ikut tewas dalam serangan-serangan itu.

    SIMAK:  TEROR PARIS: Terungkap, Inilah Mostefai, Si Penebar Maut Itu  

    Dari penelusuran, polisi menemukan mobil seat hitam di pinggiran timur Paris. Mobil berpelat Belgia itu, digunakan teroris untuk membawa mereka ke tengah kota demi melakukan teror, salah satunya di Jalan de la Fontaine-au-Roi di mana lima tewas, dan sebuah restoran di Jalan de Charonne di mana 19 orang meninggal dunia. Mobil itu, seperti dilansir AFP, ditemukan terparkir di kota Montreuil.

    Polisi, seperti dikutip AFP, juga  menahan enam orang yang diduga dekat dengan Mostefai, termasuk ayahanda Mostefai, kakak dan kakak iparnya.  Mereka diinterogasi soal kegiatan Mostefai. "Ini gila, ini kegilaan," kata sang kakak kepada AFP, sebelum ditahan, merujuk pembantaian yang merenggut 129 nyawa itu.

    WDA | REUTERS | AFP

    Baca  juga:
    Drama Teror Paris: Allahu Akbar, Isi Pelor Lagi, Lalu Tembak-tembak!
    Heboh Penjara Buaya Budi Waseso:1.000 Buaya Ada Syaratnya 




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.