Teroris Tembaki Warga Paris bak Burung, Teriak Allahuakbar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengevakuasi wanita dari dalam gedung pertunjukan Bataclan di Paris, setelah terjadi peristiwa penyanderaan dan penembakan di dalam gedung tersebut, pada 13 November 2015. AP/Thibault Camus

    Petugas mengevakuasi wanita dari dalam gedung pertunjukan Bataclan di Paris, setelah terjadi peristiwa penyanderaan dan penembakan di dalam gedung tersebut, pada 13 November 2015. AP/Thibault Camus

    TEMPO.CO, Paris - Serangan sekelompok orang di gedung konser Bataclan, Paris, Prancis, telah menewaskan  hampir 130 orang. Bataclan mampu menampung 1.500 penonton.
    Seorang reporter radio, Julien Pearce, mengatakan, saat acara konser band rock asal Amerika akan berakhir, dua orang bersenjata senapan serbu AK-47 masuk. Menurut Pearce, keduanya berjalan dengan tenang.  "Dengan tenang, keduanya menembak secara acak," ucap Pearce.    
     
    Para pelaku memakai pakaian hitam tanpa penutup wajah. Dia melihat wajah salah satu penembak, yang masih sangat muda berusia maksimal 25 tahun. Pearce berujar, dua pria bersenjata itu berdiri di bagian belakang ruangan dan terus menembak ketika para penonton konser tiarap ke lantai. Satu di antaranya bergaya seperti eksekutor.

    Baca juga:
    Teror Paris, 130 Tewas: Isi Pelor Lagi, Lalu Tembak-tembak!
    TEROR PARIS, Hampir 130 Tewas: 3 Skenario di Balik Serangan  

    "Mereka tidak bergerak," tuturnya tentang orang-orang bersenjata. "Mereka hanya berdiri di belakang ruang konser dan menembaki kami. Mereka menganggap kita seperti burung."

    Pearce mengatakan tidak mendengar mereka mengatakan apa-apa. Namun saksi berbeda mengatakan kepada Radio France, penyerang memasuki aula, menembakkan senapan, dan berteriak, "Allahu Akbar!"

    Pearce berujar, ia berhasil kabur saat para penembak sedang mengisi peluru senjatanya. Saat kabur itu, dia melihat gadis remaja dengan luka tembak di kakinya dan langsung memanggulnya. "Aku meraih dia dan menempatkannya di punggung saya. Kami pun berlari."

    Serangan itu memungkinkan karena keamanan di konser sangat longgar. Menurut Pearce, tidak ada detektor logam dan pihak keamanan tak memeriksa bawaan penonton. Mereka hanya memeriksa tiket. "Keamanan sangat lemah," kata Pearce.

    CNN | EKO

    Baca  juga:
    Drama Teror Paris, 130 Tewas: Isi Pelor Lagi, Lalu Tembak-tembak!
    Heboh Penjara Buaya Budi Waseso:1.000 Buaya Ada Syaratnya


     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.