Pemerintah Cina Hentikan Kebijakan Satu Anak Saja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi anak-anak saat menyantap mie buatan mahasiswa Universitas Yangzhou dengan panjang 300 meter di Yangzhou, provinsi Jiangsu, Cina, 23 Juli 2015. Lebih dari 50 mahasiswa untuk membuat mie sepanjang 300 meter untuk di nikmati pada musim panas. ChinaFotoPress/ChinaFotoPress via Getty Images

    Ekspresi anak-anak saat menyantap mie buatan mahasiswa Universitas Yangzhou dengan panjang 300 meter di Yangzhou, provinsi Jiangsu, Cina, 23 Juli 2015. Lebih dari 50 mahasiswa untuk membuat mie sepanjang 300 meter untuk di nikmati pada musim panas. ChinaFotoPress/ChinaFotoPress via Getty Images

    TEMPO.CO, Beijing - Pemerintah Cina memutuskan untuk menghentikan kebijakan satu anak saja untuk seluruh warga negaranya. Demikian dilaporkan kantor berita resmi Cina, Xinhua, sebagaimana dikutip situs berita BBC, Kamis, 29 Oktober 2015.

    Seluruh pasangan di Cina kini boleh memiliki dua anak. Kabar ini dirilis dari pernyataan resmi Partai Komunis Cina. Kebijakan kontroversial ini diperkenalkan secara nasional pada 1979 untuk mengurangi angka kelahiran anak dan mengerem laju pertumbuhan jumlah penduduk Cina.

    Belakangan, keprihatinan atas populasi Cina yang terus menua mendorong pemerintah untuk mengubah kebijakan ini. Meski begitu, sejak diterapkan, kebijakan satu anak ini diperkirakan sudah menghalangi kelahiran 400 juta anak.

    Pasangan yang melanggar kebijakan ini harus menerima berbagai sanksi, dari denda, pemecatan, sampai keharusan melakukan aborsi. Seiring dengan waktu, pemerintah Cina melonggarkan kebijakan ini di beberapa provinsi, terutama setelah ahli kependudukan dan pakar sosiologi mengingatkan adanya bahaya peningkatan biaya sosial dan berkurangnya angka angkatan kerja.

    Partai Komunis Cina secara resmi mulai melonggarkan aturan ini dua tahun lalu. Jika satu di antara pasangan merupakan anak tunggal, mereka bisa memiliki dua anak.

    Ketika diperkenalkan pada 1979, kebijakan ini membuat sepertiga warga Cina tidak bisa memiliki anak kedua tanpa membayar denda. Di kawasan pedesaan, warga boleh memiliki anak kedua jika anak pertama mereka perempuan. Mereka yang berasal dari etnis minoritas juga boleh punya dua anak.

    Banyak aktivis menuding kebijakan ini mendorong pemaksaan aborsi, pembunuhan bayi perempuan, dan kelahiran bayi perempuan yang tidak dilaporkan. Kebijakan ini juga disalahkan atas tidak berimbangnya komposisi gender penduduk Cina saat ini. Saat ini, lebih dari 30 persen penduduk Cina berusia 50 tahun lebih.

    Koresponden BBC melaporkan bahwa meski kini sudah ada perubahan kebijakan, banyak warga tetap memilih punya satu anak karena itu sudah menjadi norma sosial. Karena itu, ada yang khawatir, berakhirnya kebijakan satu anak tidak berarti pertumbuhan jumlah penduduk Cina akan naik.

    BBC    
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.