Gara-gara Obat Batuk Sirup, Mark Kehilangan Nyawanya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO , Paignton: Peringatan terbaru muncul tentang bahaya kodein--asam opiat alkaloid yang di Amerika Serikat dibuat dari morfin melalui proses metilasi--setelah seorang ayah meninggal karena menderita overdosis dari meneguk sirup obat batuk.

    Dikutip dari laman Mirror, Senin, 26 Oktober 2015, Mark Pilar, 51, menelan begitu banyak sirup yang dibelikan oleh putranya Jack lewat toko online. Obat itu dikatakan memiliki tingkat toksisitas 30 kali melebihi batas ambang wajar.

    Hasil pemeriksaan menyebutkan Mark dan anaknya telah minum kodeine dicampur limun dalam jumlah besar. Mantan istrinya, Alison Harris, mengatakan berdasarkan pemeriksaan, Mark kerap bermasalah dengan alkohol tapi sudah berhenti minum dan mulai hidup sehat.

    Setelah memastikan kematian Mark, petugas koroner Ian Arrow mengeluarkan peringatan bahaya mengkonsumsi kodeine dalam jumlah besar. "Saya yakin dia ditemukan tewas di rumahnya. Ada dua botol kosong dari kodein ditemukan di dekatnya."


    Ian percaya pada keseimbangan probabilitas, dan menyebutkan Mark secara sukarela mengkonsumsi minuman. "Saya percaya pada keseimbangan probabilitas bahwa kematiannya muncul sebagai hasil dari ini."

    Menurut Ian, publikasi di sekitar kematian ini seharusnya menyadarkan masyarakat konsumsi kodein, khususnya kodein linctus, bisa sangat serius dan memang fatal akibatnya. Mark ditemukan tewas di rumahnya di Paignton, Devon, Inggris, 26 Januari 2015.

    Anaknya, Jack Pilar, mengaku membeli botol obat batuk melalui internet, yang diminum dengan limun. Jack menemukan ayahnya tergeletak di lantai. Di dekatnya ada 2 botol obat batuk tersebut. Paramedis yang datang mengkonfirmasi Mark tewas di tempat kejadian.

    MIRROR.CO.UK | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.