Ulama Syiah Divonis Mati oleh Mahkamah Agung Arab Saudi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan muslim Syiah memukuli dirinya saat mereka mengitari makam selama festival Asyura, Teheran, 24 Oktober 2015. Asyura, jatuh pada hari ke-10 dari bulan Islam Muharram, memperingati kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang tewas dalam pertempuran abad ke-7 dari Karbala. REUTERS/Raheb Homavandi/TIMA

    Ratusan muslim Syiah memukuli dirinya saat mereka mengitari makam selama festival Asyura, Teheran, 24 Oktober 2015. Asyura, jatuh pada hari ke-10 dari bulan Islam Muharram, memperingati kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang tewas dalam pertempuran abad ke-7 dari Karbala. REUTERS/Raheb Homavandi/TIMA

    TEMPO.CO, Jeddah - Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi membenarkan kabar bahwa lembaganya telah menjatuhkan hukuman mati terhadap ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr, karena didakwa memimpin demonstrasi anti-pemerintah.

    "Setelah pengadilan tinggi menolak banding dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung, kini nasib Sheikh Nimr di tangan Raja Salman. Beliau dapat menentukan apakah hukuman mati itu diteruskan atau dibatalkan," kata Mohammed Nimr, saudara laki-laki Sheikh Nimr, Minggu, 25 Oktober 2015, waktu setempat.

    Mohamed Nimr memperingatkan, "Eksekusi mati dapat membangkitkan reaksi yang tidak kami inginkan, karena Sheikh Nimr memiliki pendukung Syiah di seluruh dunia Islam." Dia berharap Raja Salman membuktikan sebagai pemimpin bijaksana dengan menghentikan eksekusi terhadap saudaranya dan enam warga Syiah lain.

    Di antara orang-orang yang dijatuhi hukuman mati, "Terdapat saudara laki-laki saya, Ali al-Nimr. Dia ditahan karena terlibat unjuk rasa anti-pemerintah di Provinsi Timur," ucapnya kepada kantor berita AFP.

    Keputusan eksekusi mati, khususnya terhadap Ali al-Nimr, mendapatkan reaksi dari berbagai penjuru dunia dengan meminta otoritas Saudi membatalkan keputusannya terhadap pemuda Syiah tersebut.

    Iran, yang dianggap musuh Arab Saudi, memperingatkan Riyadh untuk tidak mengeksekusi ulama tersebut. "Eksekusi terhadap Sheikh Nimr akan memiliki konsekuensi mengerikan terhadap Arab Saudi," tutur Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian.

    Pada 2009, Sheikh Nimr menyerukan agar pengikutnya di Qatif dan Al-Ihsaa, Provinsi Timur, memisahkan diri dari Kerajaan Arab Saudi untuk bergabung dengan kaum mayoritas Syiah di Bahrain. Akibat ulahnya itu, pada 2014, pengadilan khusus di Riyadh menjatuhkan hukuman mati.

    Sekitar dua juta warga Syiah tinggal di Arab Saudi. Mereka kerap berunjuk rasa karena merasa dipinggirkan. Mereka tinggal di wilayah paling timur Arab Saudi, daerah yang memiliki cadangan minyak besar.

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.