Sekutu Tidak Tahu Keberadaan Saddam Hussein

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekretaris Menteri Pertahanan Inggris Geoff Hoon mengatakan Inggris dan sekutunya masih belum mengetahui apakah Presiden Saddam Hussein sudah meninggal atau cedera setelah gempuran serangan udara dilakukan. "Apapun yang terjadi, kami tidak tahu nasib dia," kata Hoon dalam wawancara dengan salah satu televisi Inggris, Jumat (21/3). Menurutnya, kini berkembang beberapa analisis yang menyebutkan pengambilalihan Irak seandainya Saddam telah meninggal akibat serangan itu. Seorang reporter Washington Post melaporkan bahwa intelijen Amerika Serikat percaya Saddam Hussein masih hidup dan berada di Tenggara Bagdad dalam sebuah tempat rahasia bersama dua anaknya, Qusay dan Uday. Hal itu diketahui setelah pesawat udara mata-mata AS mengintai Bagdad pada Jumat pagi. Tapi seorang staf Gedung Putih memperkirakan Saddam terluka akibat serangan udara itu melalui indikasi adanya permintaan perawatan kesehatan oleh orang-orang Saddam Hussein. Seorang sumber intelijen lain menyebutkan tidak ada yang keluar dari tempat persembunyian itu sebelum serangan dilakukan. The Post menulis keputusan menyerang tempat persembunyian Saddam itu dilakukan dalam rapat tertutup antara Presiden George Bush dengan Direktur CIA George Tenet dan beberapa penasihat senior presiden selama dua jam di Gedung Putih Rabu kemarin. Tenet mengatakan kepada Bush tempat persembunyian Saddam itu sebagai tempat yang dilengkapi dengan peralatan dan "intelijen yang cantik". "Tak ada lagi keraguan untuk menyerang tempat itu," katanya. Kantor berita AFP menulis saat ini Saddam sudah dikepung "tapi tidak terkepung". Sampai kini, kata editor Barry Parker, tak ada tanda-tanda bendera putih muncul dari tempat persembunyian Saddam Hussein itu. Bagja Hidayat --- TNR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.