Kabut Asap Indonesia, Malaysia Mulai Hitung Ongkos Pengobatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan patung Suku Dayak yang diselimuti asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 Oktober 2015. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah titik panas di Kalimantan menurun, meski demikian kabut asap tetap mengkhawatirkan. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pemandangan patung Suku Dayak yang diselimuti asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 Oktober 2015. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah titik panas di Kalimantan menurun, meski demikian kabut asap tetap mengkhawatirkan. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur -- Malaysia mulai menghitung biaya pengobatan yang harus ditanggung warga  dan pemerintah Malaysia setiap tahun karena kabut asap dari Indonesia. "Kami sudah menghabiskan terlalu banyak biaya pengobatan, terutama bagi mereka yang punya masalah pernapasan," kata Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi, Wakil Perdana Menteri Malaysia, seperti dilansir The Star, Minggu, 4 Oktober 2015.

    Karena itu, meski menyambut baik langkah Presiden Joko Widodo dalam menangani kabut asap, Malaysia, menurut Zahid Hamidi, tetap menganggap proses penanganan asap terlalu lama untuk terbukti efektif. "Ada langkah yang diambil dan kami bersyukur untuk itu, tapi sejauh ini tidak cukup," kata Zahid.

    Zahid berkomentar seperti ini menanggapi pernyataan Presiden Indonesia Joko Widodo yang dilansir BBC pada Selasa pekan lalu, bahwa pemerintah Indonesia memerlukan waktu tiga tahun untuk memperlihatkan hasil upaya mengakhiri kebakaran dan kabut asap. Menurut Jokowi, "Ini bukan masalah yang dapat dipecahkan dengan cepat."

    Jokowi juga melaporkan bahwa lebih dari 3.700 tentara, hampir 8.000 petugas polisi, dan empat pesawat pengebom air di Indonesia telah dikerahkan untuk memadamkan api.

    Menurut Zahid, Menteri Sumber Daya Alam dan Menteri Lingkungan Hidup Malaysia Datuk Seri Wan Junaidi Tunku Jaafar juga telah dikirim untuk berdiskusi dengan pemerintah Indonesia tentang langkah untuk mengatasi masalah tersebut.

    Kantor berita Malaysia, Bernama, kemarin juga mengutip komentar Zahid yang menyatakan bahwa ia berharap Indonesia bisa membahas langkah-langkah jangka panjang untuk mengatasi krisis asap ini. "Kami berharap komitmen tidak hanya di atas kertas atau sekadar pernyataan yang enak didengar telinga, tapi melalui pelaksanaan yang bisa mengakhiri semua masalah kabut," katanya.

    Polusi asap yang terjadi tahun ini, yang berdampak besar bagi negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, merupakan yang terburuk—melebihi angka kerugian US$ 9 miliar yang dicatat dalam kasus serupa pada 1997. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, juga memperingatkan bahwa kabut asap tahun ini bisa masuk dalam kategori yang terburuk.

    A.MANAN | THE STAR | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.