Malaysia Kritik Indonesia: Tetap Lamban Tangani Kabut Asap  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi. TEMPO/Subekti

    Dato Seri Ahmad Zahid Hamidi. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Kualalumpur - Pemerintah Malaysia menyambut baik langkah yang akan diambil pemerintah Indonesia dalam menangani kabut asap, tapi mengkritiknya karena dianggap terlalu lama menjalankan langkah yang efektif.

    "Kami bersyukur pemerintah Indonesia melakukan apa yang mereka bisa untuk memecahkan masalah ini. Kami pikir rencana waktunya terlalu lama bagi kami untuk melihat efektivitasnya," kata Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi saat peluncuran U-turn, program talkshow stasiun televisi Al-Hijrah dan Kementerian Dalam Negeri seperti dilansir The Star, Minggu, 4 Oktober 2015. (Lihat video Inilah Penyebab Kabut Asap belum Berakhir, Ini Usaha Pemerintah Menangani Kabut Asap)

    Komentar ini menanggapi pernyataan Presiden Indonesia Joko Widodo yang dilansir BBC Selasa pekan lalu bahwa pemerintah Indonesia memerlukan waktu tiga tahun untuk memperlihatkan hasil upaya mengakhiri kebakaran dan kabut asap karena ini "bukan masalah yang dapat dipecahkan dengan cepat". Jokowi juga melaporkan bahwa lebih dari 3.700 tentara, hampir 8.000 petugas polisi, dan empat pesawat pengebom air di Indonesia telah dikerahkan untuk memadamkan api.

    Tindakan hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan-kegiatan yang memberikan kontribusi terhadap pembakaran hutan, kata Zahid, juga termasuk dalam langkah-langkah yang diambil oleh kedua negara.

    Dia mengatakan Menteri Sumber Daya Alam dan Menteri Lingkungan Hidup Malaysia Datuk Seri Wan Junaidi Tunku Jaafar juga telah dikirim untuk berdiskusi dengan pemerintah Indonesia tentang langkah untuk mengatasi masalah tersebut.

    Kantor berita Malaysia, Bernama, kemarin juga mengutip komentar Zahid yang menyatakan ia berharap Indonesia bisa membahas langkah-langkah jangka panjang untuk mengatasi krisis asap. "Kami berharap komitmen tidak hanya di atas kertas atau sekadar pernyataan yang enak didengar telinga, tapi melalui pelaksanaan yang bisa mengakhiri semua masalah kabut," katanya.

    Polusi asap yang terjadi tahun ini, yang berdampak besar bagi negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, merupakan yang terburuk—melebihi angka kerugian US$ 9 miliar yang dicatat dalam kasus serupa pada 1997. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, juga memperingatkan bahwa kabut asap tahun ini bisa masuk dalam kategori yang terburuk.

    A.MANAN | THE STAR | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.