Menlu RI : Myanmar Tak Terbuka pada ASEAN

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Myanmar, menurut Menteri Luar Negeri Thailand Kantathi Suphamongkhon, menyatakan siap menerima delegasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengecek perkembangan negeri itu dalam melaksanakan reformasi demokrasi.Menurut Kantathi, pernyataan itu disampaikan olehPerdana menteri Myanmar, Letnan Jenderal Soe Win,kepada para kepala negara/kepala pemerintahan dalamKonferensi Tingkat Tinggi ASEAN, di Kuala Lumpur, Malaysia. "Keanggotaan delegasi ASEAN untuk Myanmar masih dalam pembahasan,"ujar Kantathi. Saat ini terdapat sejumlah usulan mengenai komposisi delegasi. Usulan pertama, anggota delegasi terdiri dari para menteri luar negeri ASEAN. Usulan kedua, menunjuk Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Syed Hamid Albar, untuk memimpin delegasi dan mewakili ASEAN karena kedudukannya sebagai ketua komisi kerja ASEAN. Usulan ketiga, anggota delegasi terdiri dari para menteri luar negeri dari pemimpin ASEAN.Perdana Menteri Myanmar juga menyatakan Yangoon siap berkoordinasi dan menindaklanjuti kunjungan itu serta berkonsultasi dengan pemerintahnya untuk menentukan langkah rinci. Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirjuda, menyatakan anggota ASEAN lain kecewa terhadapperkembangan di Myanmar karena Yangon tak pernahtransparan kepada anggota lainnya. Proses demokratisasi di Myanmar sesuai dengan peta menujudemokrasi yang tak jalan. "Ini sangat menyulitkan bagi ASEAN,"kata Hassan. Sebab, ASEAN ingin membela Myanmar dari serangan dunia internasional, tapi negeri itu tidak memberi informasi atau amunisi yang diperlukan. MenurutUtusan khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Myanmar, Ali Alatas, Yangoon belum melakukan perbaikan berarti terhadap kondisi demokrasi dan hak asasi manusia di negerinya.Wahyudi MP dan TH Salengke

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.