Tragedi Mina, Fahri: Penumpukan Jamaah Seperti Tidak Diatur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para jamaah calon haji yang menjadi korban terinjak-injak saat berdesakan di jalan menuju tempat pelemparan jumroh tergeletak di tengah jalan di Mina, Arab Saudi, 24 September 2015. Peristiwa tersebut bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Sebelumnya beberapa insiden serupa juga pernah terjadi pada tahun 2006, 1997, 1994, 1990. AP Photo

    Para jamaah calon haji yang menjadi korban terinjak-injak saat berdesakan di jalan menuju tempat pelemparan jumroh tergeletak di tengah jalan di Mina, Arab Saudi, 24 September 2015. Peristiwa tersebut bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Sebelumnya beberapa insiden serupa juga pernah terjadi pada tahun 2006, 1997, 1994, 1990. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Tim Pengawas Haji Fahri Hamzah meminta pemerintah Arab Saudi untuk membenahi pengaturan pergerakan jemaah haji yang ingin melakukan lempar jumrah di Mina.

    Saat dihubungi oleh Tempo pada Kamis malam, 24 September 2015, Fahri berujar, “Pemerintah Saudi harus concern bahwa mengelola jemaah sebanyak ini harus betul-betul diatur. Kapan pergerakan ke sini, kapan pergerakan ke situ, itu harus jelas.”

    Fahri menduga tragedi Mina mungkin terjadi akibat adanya penumpukan yang seolah tidak diatur oleh pemerintah Arab Saudi. “Dulu kejadiannya di terowongan, sekarang di jalan umum. Seolah kejadian ini tidak bisa dihindari dalam setiap prosesi ibadah haji,” kata Fahri.

    Menurut Fahri, pemerintah Arab Saudi hanya mengatur regulasi mengenai prosesi wukuf yang dilaksanakan di Arafah, yakni pada 9 Dzulhijjah atau 23 September 2015. Ia berujar prosesi lempar jumrah yang dilaksanakan setelah prosesi wukuf tidak diatur regulasinya dan tidak dikomunikasikan kepada masing-masing negara dan bahkan masing-masing jemaah. (Baca: TRAGEDI MINA: Peristiwa 1990 Masih Dianggap yang Terparah)

    Karena itu, para jemaah yang ingin segera menuntaskan ibadah haji mereka pun berbondong-bondong ke Mina untuk melakukan lempar jumrah. “Mereka melontarkan jumrah pada saat yang sama, sehingga peluang terjadinya saling injak sangat tinggi,” ujar Fahri.

    Fahri menyayangkan pergerakan jemaah yang ada di sana sangat tidak terkendali dan tidak terfasilitasi dengan cukup baik. “Mobilitas ini harus dikendalikan, tidak ada cara lain selain itu,” kata Fahri.

    Fahri berujar, sebagai negara dengan jumlah jamaah terbesar, pemerintah Indonesia seharusnya mengambil inisiatif untuk mendesak pemerintah Arab Saudi agar membicarakan penyelenggaraan haji secara bersama-sama.

    “Saya mengapresiasi bahwa Menteri Agama kita berani menyentil pemerintah Arab Saudi untuk membangun fasilitas yang lebih baik bagi jemaah karena mereka punya segala kemampuan untuk itu,” ujarnya.

    Baca:

    TRAGEDI MINA: Saksi Mata Itu Berkisah, Terhimpit, Kepanasan

    Cerita Aher Soal Detik-Detik Tragedi Mina

    Saat ini Tim Pengawas Haji dan pihak Amirul Haj terus berkoordinasi dengan rumah sakit setempat untuk mengidentifikasi korban dari Indonesia. Fahri berujar, lokasi kejadian tragedi pada siang hari tadi telah ditutup, sehingga dirinya dan anggota tim lainnya tidak memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung. “Ini kami dalam perjalanan ke Mina. Kami berharap masyarakat Indonesia tetap tenang, sebab tragedi ini tidak terjadi di jalur Indonesia,” ujar Fahri.

    Hingga semalam jumlah korban tragedi Mina masih terus bertambah. Informasi terakhir menyebutkan terdapat 453 orang tewas dan 700 orang luka-luka. Dua orang jemaah haji asal Indonesia turut teridentifikasi sebagai korban yang meninggal akibat insiden tersebut, yakni Hamid Atwitarji dan Syaisuyah Syahri Abdul Gafar.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.