Inggris Akan Desak AS Tunda Deadline Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, London:Perdana Menteri Inggris Tony Blair berencana menemui Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan Kepala Inspektur Senjata Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Hans Blix untuk mencegah aksi militer dini atas Irak menjadi tak terhindarkan". Demikian dilaporkan surat kabar Inggris The Times, Sabtu (11/1). Sementara jumlah personel militer Amerika yang tiba di Teluk Persia sudah mencapai 80 ribu orang. Blair sendiri dijadwalkan terbang ke Washington akhir Januari ini, untuk menyampaikan pesan Inggris agar PBB diberi waktu lebih panjang menyelesaikan penyelidikan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal di Irak. Blair juga berharap dapat menemui Blix di London, sebelum laporan tim inspeksi itu disampaikan pada Sidang Dewan Keamanan PBB 27 Januari depan. Sementara Perdana Menteri Turki Abdullah Gul, Sabtu (11/1) di Riyadh, menemui pemimpin Arab Saudi Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz dan Menteri Luar Negeri Pangeran Saud al-Faisal untuk membicarakan kemungkinan penyelesaian krisis Irak tanpa perang. Gul mengkhawatirkan perang atas Irak yang digalang Amerika Serikat hanya akan membawa dampak negatif untuk kawasan Timur Tengah. Setelah laporan interim Blix soal tidak ditemukannya pistol berasap di Irak diumumkan Kamis (9/1), Blair memberitahu kabinetnya bahwa 27 Januari harus dipandang sebagai salah satu tahapan proses perlucutan senjata di Irak --dan bukan batas akhir penentuan jadi tidaknya perang atas negara itu. Lebih jauh, sejumlah pengamat politik di Inggris menyatakan tidak ditemukannya bukti bahwa Saddam Hussein telah mengembangkan senjata pemusnah massal menempatkan pemerintah Inggris pada posisi sulit. Di satu sisi, ingin tetap loyal kepada Washington. Namun di sisi lain, riskan memulai perang di Irak tanpa lampu hijau PBB. Dalam pertemuannya dengan Presiden Bush, Blair dilaporkan akan mencoba membujuk Amerika untuk menunda aksi militer sampai tim inspeksi Blix berhasil menyelesaikan tugasnya --kemungkinan Februari atau bahkan Maret mendatang. Namun, kedua pemimpin itu bisa juga malah membentuk semacam dewan perang sebagai persiapan aksi militer atas Irak, bergantung pada perkembangan sikap Presiden Saddam atas tuntutan Hans Blix yang meminta Irak lebih terbuka pada tim inspeksinya. Blix dan Direktur Badan Energi Atom Internasional --lembaga pengawas atom PBB-- Mohamed El Baradei akan kembali ke Baghdad, 19 Januari pekan depan. Pada dasarnya, saya dan Dr. Blix akan menyampaikan pesan pada Irak, proses inspeksi ini harus rampung secepatnya. Masyarakat internasional sudah cukup lama menunggu akhir proses perlucutan senjata di Irak yang sampai kini telah 12 tahun lamanya, kata El Baradei, seperti dikutip AFP. Berbicara pada pers, setelah menemui Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell, El Baradei mengakui proses inspeksi senjata sudah mengalami kemajuan meski tidak secepat yang diharapkannya. Kami masih menunggu kerja sama yang lebih pro aktif dari pihak Irak, kata dia. Menurut El Baradei, tim inspeksi PBB belum memperoleh cukup bukti -dokumen, kesaksian atau tanda fisikuntuk memverifikasi klaim Irak bahwa negara itu telah melucuti semua persenjataan massal yang dimilikinya. Meski usaha untuk menunda perang terus dilakukan, militer Amerika tetap meningkatkan aktivitas persiapan perangnya. Jumat (10/1) malam, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld menandatangani perintah pengiriman 35 ribu pasukan tambahan ke kawasan Teluk. Ini adalah pengiriman pasukan terbesar sejak Amerika Serikat memulai persiapan perangnya, akhir Desember silam. Segera setelah perintah itu diberikan, tujuh ribu marinir dari Kamp Lejeune, North Carolina, segera diangkut dengan tiga kapal perang --USS Saipan, USS Ponce dan USS Gunston Hall yang telah meninggalkan pelabuhan induknya di Norfolk, Virginia, Jumat lalu. Dengan demikian, hingga kini, total jumlah pasukan Amerika di Teluk Persia mencapai 80 ribu personel. Pentagon merencanakan mengirim lebih dari 100 ribu pasukan ke kawasan itu, pada akhir Januari. Sumber lain menyebutkan Departemen Pertahanan Amerika akan mengirim 200 ribu sampai 250 ribu personel militer ke Teluk untuk persiapan perang atas Irak. Sementara Jumat lalu, pesawat tempur Amerika dan sekutunya, membom sejumlah sasaran komunikasi strategis Irak di zona larangan terbang, sebelah selatan Baghdad. Serangan itu adalah aksi militer keenam sejak awal tahun ini. Pentagon menyebut serangan itu adalah aksi membela diri. (AFP/CNN/The Times/Wahyu Dhyatmika)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.