Imam Shamsi: Trump Antimuslim, Kok Ketua DPR Ikut Kampanye

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kandidat presiden Amerika Serikat dari kubu Republik, Donald Trump (kanan), memperkenalkan Ketua DPR Setya Novanto kepada wartawan di Trump Tower, New York, 3 September 2015.  Trump memperkenalkan Setya usai acara pengambilan sumpah kesetiaannya kepada kubu Republik.  REUTERS/Lucas Jackson

    Kandidat presiden Amerika Serikat dari kubu Republik, Donald Trump (kanan), memperkenalkan Ketua DPR Setya Novanto kepada wartawan di Trump Tower, New York, 3 September 2015. Trump memperkenalkan Setya usai acara pengambilan sumpah kesetiaannya kepada kubu Republik. REUTERS/Lucas Jackson

    TEMPO.CO, Jakarta - Imam di Islamic Cultural Center of New York, Shamsi Ali, mendapat banyak pertanyaan terkait dengan kunjungan rombongan Dewan Perwakilan Rakyat yang dipimpin ketuanya, Setya Novanto, ke acara kampanye Donald Trump.

    "Banyak yang mempertanyakan motifnya. Warga negara Indonesia di Amerika yang tahu tentang Donald Trump tentu tidak senang dengan kunjungan Ketua DPR Indonesia itu," kata Shamsi Ali kepada Tempo melalui pesan pendek pada Jumat, 4 September 2015.

    Kamis, 3 September 2015, Donald Trump diambil sumpah kesetiaan oleh Partai Republik untuk maju sebagai calon Presiden Amerika Serikat. Trump dikenal sebagai pengembang real estate, operator hotel, dan pemilik tiga kasino di Atlantic City.

    Dalam acara Partai Republik yang berlangsung di Trump Tower, New York, Setya Novanto, Wakil Ketua DPR Fadli Zon, dan beberapa anggota DPR hadir.  

    Setya Novanto berada di New York untuk menjadi pembicara dalam The 4th World Conference of Speakers of Parliaments. Acara ini diselenggarakan International Parliamentary Union (IPU). Dia didampingi sekitar 20 anggota DPR, seperti Nurhayati Ali Assegaf, Tantowi Yahya, dan Azis Syamsudin.

    Imam Shamsi Ali, yang lahir di Tanah Toa, Sulawesi Selatan, menyayangkan langkah yang diambil pemimpin DPR Indonesia tersebut. "Pertama, sangat tidak etis, karena posisinya sebagai Ketua DPR yang mewakili negara. Dan negara Indonesia tidak etis mendukung salah satu calon, apalagi menghadiri acara kampanye," ucap Shamsi, yang sejak 1996 bermukim di Amerika.

    Kedua, ujar Shamsi, Ketua DPR diterima tidak lebih dari tiga menit untuk sekadar memperlihatkan muka di depan panggung.

    Menurut Shamsi, ini sungguh merendahkan martabat bangsa dan negara. Sebab, tutur dia, pertemuan itu hanya untuk sekadar tersenyum di depan publik Amerika pendukung Donald Trump.

    Keberatan Shamsi yang ketiga, sosok Donald Trump dikenal rasis dan antiimigran, termasuk antimuslim. Seharusnya, kata dia, seorang Ketua DPR berhati-hati, jangan sampai pertemuan itu menjadi pembenaran sikap Donald Trump yang rasis.

    UNTUNG WIDYANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.