Iran Larang Jual Pakaian Bergambar Bendera AS dan Inggris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga merayakan kesepakatan perundingan penghentian program nuklir di Teheran, Iran, 14 Juli 2015. Para juru runding negara-negara Barat bersepakat dengan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif tentang penghentian program nuklir Iran. AP/Ebrahim Noroozi

    Warga merayakan kesepakatan perundingan penghentian program nuklir di Teheran, Iran, 14 Juli 2015. Para juru runding negara-negara Barat bersepakat dengan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif tentang penghentian program nuklir Iran. AP/Ebrahim Noroozi

    TEMPO.CO, Teheran - Sejumlah media lokal Teheran melaporkan, polisi Iran telah menangkap para pedagang yang menjual pakaian bergambar bendera Amerika Serikat dan Inggris.

    Kepala Polisi Kota Teheran Jenderal Hossein Sajedinia, tulis The Guardian mengutip kantor berita ISNA, menyatakan pakaian yang dicetak dengan “simbol setan” juga telah disita dari toko-toko di Teheran.

    "Pagi ini, kami mengambil pakaian ini dari distributor-distributor terkemuka," kata Sajedinia. Dia memperingatkan, setiap toko yang menjual barang-barang seperti itu akan ditutup.

    Sajedinia menjelaskan, laporan tentang kegiatan pemeriksaan produk-produk pakaian yang menampilkan lambang bendera AS dan Inggris telah diterima para pedagang dalam dua pekan terakhir. Polisi segera melakukan pengawasan dan penahanan.

    Terlepas dari sikap terbaru Iran itu, setelah kesepakatan nuklir pada 14 Juli lalu, Inggris dan Iran telah membuka kembali kedutaan besar masing-masing pada Agustus 2015, baik di Teheran maupun London, setelah sebelumnya ditutup selama empat tahun.

    Tapi pemimpin senior Iran, sebagaimana dikutip The Guardian, menuturkan tidak akan ada perubahan dalam pendekatan hubungan mereka dengan AS. Hubungan AS dan Iran diketahui sering dibumbui ketegangan setelah Iran dianggap sebagai salah satu negara di Timur Tengah yang paling konsisten menolak tunduk pada kepentingan dan kehendak Barat.

    Washington memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran sejak 1980, setelah mahasiswa Iran menyita Kedutaan Besar AS dan mengambil puluhan sandera selama revolusi Islam pada 1979.

    Dan sebelum peristiwa itu, pada 1953, Inggris dan AS disebut-sebut pernah mengatur kudeta yang menggulingkan Mohammad Mossadegh sebagai perdana menteri setelah ia menasionalisasi industri minyak.

    Pemimpin revolusi Islam, almarhum Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang sangat dicintai rakyatnya, menjuluki Amerika Serikat sebagai "setan besar", karena kebijakan dan dukungannya kepada Shah Mohammad Reza Pahlavi, penguasa kerajaan terakhir sebelum Republik Islam didirikan di Iran.

    THE GUARDIAN | MECHOS DE LAROCHA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.