Guatemala Lantik Presiden Baru Serta Penjarakan Yang Lama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Guatemala, Alejandro Maldonado. AP/Moises Castillo

    Presiden Guatemala, Alejandro Maldonado. AP/Moises Castillo

    TEMPO.CO, Guatemala -  Kongres Guatemala melantik presiden baru, Alejandro Maldonado, 79 tahun, Kamis, 3 September 2015. Sementara itu mantan Presiden Otto Perez Molina ditahan dengan tuduhan korupsi yang sudah lama membelenggu negara di wilayah Amerika Tengah tersebut.

    Perez sebelumnya harus menghabiskan berjam-jam dalam proses persidangan di Mahkamah Agung Guatemala. Atas tuduhan korupsi,  Perez pun langsung mengumumkan pengunduran diri.

    Wakil Presiden, Alejandro Maldonado, yang baru menjabat pada Mei lalu, dilantik sebagai Presiden untuk melanjutkan jabatan Perez sampai 14 Januari 2015, ketika presiden baru terpilih melalui pemilu akhir pekan ini.

    "Warga Guatemala melalui saat yang tidak menyenangkan setelah kemelut dalam institusi kita dan rasa kemarahan mereka terhadap sistem bernegara kita yang rusak," kata Maldonado, seorang pengacara dan mantan hakim Mahkamah Konstitusi, setelah acara angkat sumpah sebagai Presiden.

    Maldonado mengatakan akan membentuk pemerintahan transisi dan mengundang semua kelompok sosial yang protes di jalan-jalan untuk mengusulkan profesional muda untuk membentuk pemerintahan baru.

    "Pemerintah baru harus mengungkapkan komitmen membela dan menyuburkan kembali kepercayaan rakyat, membuka ruang dalam layanan publik untuk kalangan yang ahli dan berpengetahuan seperti profesional muda dan aktivis sosial," tegas Maldonado seperti yang dilansir ABC News pada 4 September 2015.

    Kongres pada Rabu sepakat menerima pengunduran diri Perez, yang diumumkannya pada Selasa tengah malam, setelah pemerintah mencabut hak imunitinya sebagai Presiden.

    ABC NEWS|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.