Novelis Frederick Forsyth Akui Pernah Bekerja untuk MI6

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Markas badan intelijen Inggris MI6, di Vauxhall, London. telegraph.co.uk

    Markas badan intelijen Inggris MI6, di Vauxhall, London. telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, London - Penulis novel terkenal, Frederick Forsyth, buka kartu bahwa ia pernah bekerja untuk badan intelijen luar negeri Inggris, The Secret Intelligence Service atau yang lebih dikenal dengan MI6, selama 20 tahun.

    Pengungkapan pria yang akrab dipanggil Freddie ini terkait dengan keluarnya otobiografinya berjudul The Outsider: My Life.

    Menurut BBC, pengungkapan ini mengkonfirmasi dugaan lama para penggemarnya bahwa Forsyth, 77 tahun, terlibat dengan intelijen Inggris. Setidaknya ada 20 novel yang dia tulis dan banyak yang dinilai berdasarkan kisah nyata dengan latar belakang dunia spionase.

    Forsyth menuturkan hubungannya dengan intelijen Inggris dimulai ketika ia didekati perwira intelijen Inggris yang memintanya "memberi tahu apa yang terjadi" selama perang sipil Perang Biafra di Nigeria yang berlangsung 1967-1970.

    "Selama tahun terakhir Perang Biafra, saya mengirimkan ... laporan jurnalistik untuk media dan laporan lain untuk teman baru saya itu," ucap Forsyth, seperti dilansir BBC edisi 30 Agustus 2015. Teman baru yang disebutnya itu adalah pria yang diidentifikasi bernama Ronnie.

    Menurut Forsyth, saat itu MI6 ingin tahu apakah benar banyak anak mati sekarat di sana. Sebab, Kementerian Luar Negeri Inggris membantah soal itu dan terlihat punya semangat untuk mendukung kediktatoran di Lagos. "MI6 saat itu memiliki sudut pandang yang berbeda," ujar Forsyth.

    Forsyth mengaku pernah dikirim ke Rhodesia untuk mengetahui lebih lanjut tentang pemerintah Ian Smith. Pada 1980-an, ia ke Afrika Selatan untuk misi "peningkatan pariwisata" atas permintaan MI6 guna melihat apa yang pemerintah rencanakan dengan bom atomnya ketika mereka menyerahkan kekuasaan kepada The African National Congress (ANC).

    Ia menulis sejumlah novel dan yang terpopuler antara lain The Day of the Jackal, The Odessa File, dan The Dogs of War. Novel The Day of the Jackal, yang dibuat pada 1971, menuai sukses besar sehingga dijadikan film dengan judul sama.

    Saat menulis novel itu, ia diminta mengirim naskahnya untuk ditinjau oleh MI5. Jika dinilai apa yang disampaikan dianggap terlalu "sensitif", ia diminta tak melanjutkan. "Tapi biasanya responsnya adalah, 'Ok, Freddie!',"

    Forsyth telah menjual sekitar 70 juta buku. Banyak novel karyanya yang telah diadaptasi ke dalam film. Novel terbarunya diluncurkan pada 2013 dengan judul The Kill List.

    BBC | MIRROR.CO.UK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.