Pria Ini Cegah Putrinya Diselamatkan karena Takut Ternoda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. gcaptain.com

    Ilustrasi. gcaptain.com

    TEMPO.CO, Dubai – Ayah dari seorang gadis berusia 20 tahun yang tewas tenggelam di Dubai dikabarkan menghalang-halangi petugas penyelamat pantai untuk melakukan penyelamatan karena ia tak ingin putrinya disentuh oleh pria tak dikenal.

    Pria Asia yang tak disebutkan namanya tersebut diduga membiarkan anak gadisnya mati tenggelam daripada sang putri ternoda lantaran disentuh petugas penyelamat.

    Letkol Ahmed Burqibah, Wakil Kepala Kesatuan Pencarian dan Penyelamatan Kepolisian Dubai, mengungkapkan bahwa sang gadis mengalami kesulitan saat berenang di sebuah pantai di kota itu.

    “Ini salah satu insiden yang tak bisa saya lupakan,” katanya. “Ini mengejutkan saya dan banyak orang lainnya yang terlibat dalam kejadian ini."

    Sang ayah membawa istri dan anak-anaknya ke pantai untuk bertamasya dan bersenang-senang.

    “Anak-anak mereka berenang di pantai ketika tiba-tiba gadis berusia 20 tahun itu mulai tenggelam dan berteriak-teriak minta tolong.”

    Para petugas penyelamat pantai bergegas masuk ke laut untuk menyelamatkan gadis itu. Tapi sang ayah bertindak agresif dan menarik mereka satu per satu. Demikian penuturan Letkol Burqibah kepada Emirates24/7.

    Ia menambahkan, “Ada satu rintangan yang mencegah para petugas mencapai gadis tersebut, yaitu keyakinan yang dianut sang ayah yang menganggap, jika para penyelamat tersebut menyentuh putrinya, berarti ia akan ternoda.

    “Ia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya lebih memilih putrinya tewas daripada disentuh oleh pria asing.”

    Sang ayah kemudian ditahan dan didakwa telah mencegah tim penyelamat untuk menyelamatkan nyawa putrinya.

    DAILYMAIL | A. RIJAL 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.