Buru Lagi MH370, Malaysia Minta Bantuan Negara di Samudra Hi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Benda logam yang ditemukan di Pantai Saint-Denis, tempat penemuan puing diduga berasal dari pesawat MH370 di Pulau Prancis Reunion, 2 Agustus 2015.  RICHARD BOUHET/AFP/Getty Images

    Benda logam yang ditemukan di Pantai Saint-Denis, tempat penemuan puing diduga berasal dari pesawat MH370 di Pulau Prancis Reunion, 2 Agustus 2015. RICHARD BOUHET/AFP/Getty Images

    TEMPO.COJakarta - Malaysia meminta negara-negara berlautan Samudra Hindia di dekat Pulau La Reunion milik Prancis turut mencari puing-puing pesawat MH370. Pencarian dilakukan setelah sayap yang diduga bagian dari pesawat Boeing 777 milik Malaysia Airlines itu terdampar di pantai La Reunion pada pekan lalu.

    Seperti dilansir BBC, Kementerian Transportasi Malaysia ingin memperluas area pencarian puing MH370 ke wilayah-wilayah sekitar La Reunion.

    Malaysia bahkan akan meminta bantuan negara-negara di dekat La Reunion untuk awas jika menemukan puing apa pun yang bisa jadi berasal dari MH370.

    Menteri Transportasi Liow Tiong Lai mendesak negara-negara dekat La Reunion untuk mengizinkan para pakar melakukan analisis yang lebih substantif terhadap puing-puing yang terdampar di daratan.

    Dia juga meminta masyarakat membiarkan penyelidikan berjalan dengan sendirinya demi kepentingan keluarga korban MH370 yang harap-harap cemas menanti kabar ini.

    Pesawat dengan rute Kuala Lumpur-Beijing dan membawa 239 orang itu hilang pada Maret 2014.

    Bagian sayap pesawat yang ditemukan Rabu pekan lalu sudah berada di Prancis untuk diteliti. Adapun benda-benda lain yang diduga berasal dari sebuah pesawat terus ditemukan di La Reunion, salah satunya bagian yang diduga pintu pesawat.

    AW | BBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.