Bendera Kontroversial Pasca-Penembakan di Gereja Charleston

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berdoa di luar Gereja AME Emanuel, tempat kejadian perkara penembakan yang menewaskan sembilan orang di Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat 19 Juni 2015. Serangan yang terjadi pada tanggal 17 Juni 2015 ini diduga bermotif kebencian terhadap warga kulit hitam. AP/Stephen B. Morton

    Warga berdoa di luar Gereja AME Emanuel, tempat kejadian perkara penembakan yang menewaskan sembilan orang di Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat 19 Juni 2015. Serangan yang terjadi pada tanggal 17 Juni 2015 ini diduga bermotif kebencian terhadap warga kulit hitam. AP/Stephen B. Morton

    TEMPO.CP, Eastover - Mack McElveen berharap bisa mengibarkan bendera Konfederasi, bendera perlawanan sebagian wilayah selatan Amerika Serikat yang kalah dalam perang saudara sekitar 150 tahun lampau, di rumah peternakan miliknya. Tapi ia khawatir terhadap reaksi yang akan ia terima.

    McElveen hanyalah satu dari sekian banyak warga Amerika yang masih setia kepada bendera Konfederasi. Bendera ini menjadi simbol kebanggaan warga Amerika bagian selatan. Bendera ini kembali menuai kontroversi setelah dikibarkan di Columbia, ibu kota Negara Bagian Carolina Selatan, setelah Dylann Roof, 21 tahun, menembak dan menewaskan sembilan anggota kelompok doa di gereja warga kulit hitam, Rabu malam, 15 Juni 2015, di Charleston, sekitar 120 mil atau sekitar 193 kilometer dari Columbia.

    Meskipun bendera tersebut adalah simbol perlawanan di Selatan untuk melestarikan perbudakan, banyak warga Amerika melihatnya dari sisi yang berbeda. Bagi pendukungnya, bendera ini adalah kebanggaan. Sebaliknya, bagi kelompok lain, bendera ini hanyalah lambang penindasan dan rasialisme.

    Ketegangan itu kembali mencuat sejak pekan lalu. “Mereka mungkin akan menembak rumah saya,” kata McElveen, 62 tahun, warga kulit putih Eastover, saat ditanya tentang keinginannya mengibarkan bendera Konfederasi.

    Yang dimaksud “mereka” oleh McElveen adalah warga Afrika-Amerika yang menguasai 92 persen penduduk Eastover, kota kecil dengan populasi hanya 813 orang. Masyarakat pedesaan di tengah Carolina Selatan ini tinggal di rumah satu lantai sederhana dan dikelilingi ladang jagung serta pegunungan. Daerah inilah yang diketahui sebagai alamat terakhir Dylann Roof sebelum melakukan aksinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.