Kalah Pemilu Parlemen, PM Turki Mengundurkan Diri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Turki yang juga pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan, Ahmet Davutoglu bersama istrinya Sare. AP/Burhan Ozbilici

    Perdana Menteri Turki yang juga pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan, Ahmet Davutoglu bersama istrinya Sare. AP/Burhan Ozbilici

    TEMPO.COAnkara - Perdana Menteri Turki Ahmed Davutoglu mengundurkan diri setelah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) kalah dalam pemilu legislatif Turki.

    Seperti dilansir Irish Times pada 10 Juni 2015, Davutoglu mengundurkan diri pada Selasa, 9 Juni 2015, setelah AKP kalah pada pemilihan parlemen, Minggu, 7 Juni 2015. Namun Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memintanya untuk tetap menjabat sampai pemerintahan baru terbentuk.

    Saat menerima pengunduran diri Davutoglu, Erdogan menyampaikan terima kasih atas berbagai hal yang telah dilakukan perdana menteri dan memintanya untuk tetap menjabat sampai pemerintahan baru terbentuk. Demikian isi pernyataan Presiden dalam situsnya.

    "Bapak Presiden menerima pengunduran diri kabinet yang disampaikan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu," kata juru bicara kantor Presiden Erdogan. "Bapak Presiden mengucapkan terima kasih kepada kabinet untuk kinerjanya selama ini dan meminta kabinet tetap bertugas sampai pemerintahan baru terbentuk."

    AKP kehilangan mayoritas di parlemen untuk pertama kalinya sejak meraih kekuasaan pada tahun 2002. Dalam pemilihan umum yang digelar Minggu, 7 Juni 2015, AKP tak bisa meraup suara mayoritas di parlemen sehingga harus berkoalisi dengan partai lain jika akan membentuk pemerintahan.

    Dari tabulasi 98 persen suara yang masuk, partai pengusung Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan memperoleh 41 persen atau sekitar 259 dari total 550 kursi di parlemen. Tiga partai oposisi di parlemen telah menunjukkan sedikit antusiasme untuk bergabung dengan AKP dalam koalisi.

    Pada pemilu kali ini, Partai AK mengincar kursi mayoritas atau setidaknya mendapatkan 330 kursi di parlemen. Jumlah tersebut bisa menjadi modal besar bagi partai untuk melakukan referendum nasional guna mengubah konstitusi. Partai AK ingin mengubah sistem pemerintahan dari parlemen dengan sistem presidensial. Dengan demikian, ada peluang Erdogan memperpanjang kekuasaannya.

    IRISH TIMES | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.