Perempuan Rohingya Diperkosa di Kamp Thailand-Malaysia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah kandang ditemukan di sebuah kamp perdagangan manusia di Wang Kelian, dekat perbatasan Malaysia-Thailand, 26 Mei 2015. Beberapa kamp dan kuburan massal serupa ditemukan awal bulan ini di perbatasan yang merupakan wilayah Malaysia. Para korban mencakup warga Bangladesh dan Rohingya-Myamnar. AP/Joshua Paul

    Sebuah kandang ditemukan di sebuah kamp perdagangan manusia di Wang Kelian, dekat perbatasan Malaysia-Thailand, 26 Mei 2015. Beberapa kamp dan kuburan massal serupa ditemukan awal bulan ini di perbatasan yang merupakan wilayah Malaysia. Para korban mencakup warga Bangladesh dan Rohingya-Myamnar. AP/Joshua Paul

    TEMPO.COKuala Lumpur - Para perempuan muslim Rohingya yang ditahan di kamp-kamp pedagang manusia di Thailand dan Malaysia menjadi sasaran pemerkosaan oleh penculik mereka. Kejahatan moral tersebut setidaknya telah menyebabkan dua dari wanita Rohingya hamil.

    Seperti yang dilansir The Express Tribune pada Selasa 2 Juni 2015, seorang Rohingya yang selamat dari kamp, Nur Khaidha Abdul Shukur, mengatakan, perempuan muda akan diambil pada malam hari dari kamp di hutan tempat dia ditahan di dekat Padang Besar di Thailand.

    "Setiap malam dua atau tiga wanita Rohingya yang muda dan cantik dibawa keluar dari kamp penahanan oleh penjaga ke tempat rahasia," kata Nur Khaidha.

    "Mereka kemudian diperkosa oleh para penjaga secara beramai-ramai. Dua perempuan muda di kamp hamil setelah diperkosa," katanya.

    Berbicara dari Alor Setarm, Malaysia utara, Nur Khaidha mengatakan bahwa kadang-kadang para wanita dibawa pergi oleh penjaga selama beberapa hari untuk digunakan sebagai budak seks.

    Suaminya, yang pernah transit di kamp Malaysia pada 2014, juga mengatakan hal yang sama.

    "Di malam hari beberapa penjaga akan pergi ke kamp penampungan perempuan dan membawa mereka ke tempat terdekat. Kami mendengar jeritan dan teriakan dari para wanita karena tempat mereka memperkosa sangat dekat dengan tenda kami, tetapi karena insiden terjadi pada malam hari, kami tidak bisa melihat apa yang terjadi," kata Nurul Amin Nobi Hussein, suami Nur Khaidha.

    Polisi Thailand telah menangkap hampir 50 orang, termasuk beberapa pejabat setempat, sejak menemukan kuburan masal yang diduga sebagai kamp penampung orang Rohingya yang akan diperdagangkan di awal Mei.

    Malaysia, yang juga menemukan kuburan masal di wilayah perbatasan, mengatakan 12 polisi yang berada di balik kegiatan perdagangan manusia kini sedang diselidiki.

    THE EXPRESS TRIBUNE | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.