Terdampar di Inggris, 11 Pelaut Indonesia Hidup Mengemis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pelaut Indonesia yang bekerja di kapal kargo berbendera Italia Sunflower E. Genova. (dok. SPILN)

    Para pelaut Indonesia yang bekerja di kapal kargo berbendera Italia Sunflower E. Genova. (dok. SPILN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 11 pelaut asal Indonesia yang nasibnya terkatung-katung di Newport, Wales, Inggris Raya, harus hidup menderita. Sebab, mereka sudah tak punya uang untuk makan dan hidup sehari-hari. Mereka pun terpaksa mengandalkan belas kasihan otorita pelabuhan dan misionaris gereja setempat. "Mereka sangat menderita dan kerap kelaparan," kata Wakil Ketua Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) Imam Syafii kepada Tempo, Senin, 1 Juni 2015.

    Jumat lalu, Imam mendapat laporan dari Barep Sanjaya, salah satu WNI yang terdampar di Wales tersebut. Barep dan sepuluh WNI lainnya setahun lalu bekerja menjadi kru di kapal kargo Sunflower E. Geneva, milik perusahaan Energy Shiping Srl Italy. Mereka sebetulnya hanya dikontrak selama 9 bulan. Namun, kata Imam, begitu kontrak mereka habis, kapal tempat mereka bekerja tiba-tiba ditahan oleh otoritas pelabuhan Newport, Wales.

    Kapal itu ditahan karena sejumlah negara melaporkan Energy Shiping Srl Italy menunggak utang. "Akhirnya kapal itu disita dan saat ini proses pengadilannya tengah berlangsung di Italia." Namun perusahaan lepas tangan terhadap nasib para awak kapal. Para pelaut Indonesia ini sudah tidak menerima gaji tiga bulan terakhir. Selain itu, perusahaan tak berupaya memulangkan mereka ke Indonesia. "Akhirnya mereka hidup di pelabuhan dan tak bisa ke mana-mana."

    Berdasarkan laporan Barep kepada Imam, tak hanya lepas tanggung jawab, pemilik kapal juga kerap memperlakukan pekerja dengan semena-mena. "Barep bilang di kapal kargo itu pekerja kerap diberi tugas hingga melebihi batas waktu kerja (overtime)," ujarnya. Namun kelebihan waktu kerja itu tak dibayar sebagai lembur. Kepada Imam, Barep mengaku tak ada perbudakan atau perdagangan manusia di kapal tersebut.

    Saat ini kesebelas pelaut Indonesia sangat berharap bisa pulang ke Tanah Air. Dari 11 orang, sembilan di antaranya merupakan taruna Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Mereka ditempatkan di Sunflower E. Geneva melalui perusahaan penyalur tenaga kerja PT CPT yang berkantor di kawasan MT. Haryono, Jakarta Timur.

    "Mereka bekerja di kapal itu dengan status magang karena sedang praktek kerja lapangan," ucapnya. Para taruna harus segera kembali ke kampusnya pada Juli nanti untuk melanjutkan studi. "Jika tidak mereka bisa dipecat dari kampusnya."

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.