Meliput KAA ke-60, Ini Kesan Jurnalis Asing

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana media centre peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 di JCC, Senayan, Jakarta, 22 April 2015. Tempo/Maria rita

    Suasana media centre peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 di JCC, Senayan, Jakarta, 22 April 2015. Tempo/Maria rita

    TEMPO.CO , Bandung:Perhelatan peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diikuti puluhan negara memiliki kesan tersendiri bagi jurnalis asing yang meliputnya. Perjalanan jauh dari negara asal mereka dan rumitnya protokoler tak menyurutkan semangat para jurnalis membawa pesan KAA bagi warganya masing-masing.

    Mohamed Hanafy, salah seorang jurnalis asal Mesir mengatakan, ia menempuh perjalanan selama sekitar 14 jam dari Kairo menuju Indonesia. "Transit dulu di Abu Dabi, lalu lanjut perjalanan 10 jam ke Jakarta," kata Hanafy saat ditemui di Media Center KAA, Bandung, Jumat, 24 April 2015.

    Ia datang ke Jakarta sejak tanggal 20 April untuk mengikuti rangkaian kegiatan KAA mulai dari level pejabat tinggi, pebisnis, hingga tingkat menteri. Kemudian ia bertolak ke Bandung untuk menghadiri perayaan puncak KAA yang dihadiri para kepala negara Asia Afrika.

    Menurutnya, penyelenggaraan KAA cukup terstruktur meski diakui masih ada beberapa kendala. Pembatasan jumlah jurnalis yang diizinkan meliput aktivitas kepala negara pagi tadi sangat disayangkan. Namun, secara keseluruhan, ia menilai KAA berjalan baik.

    Sayangnya, padatnya jadwal liputan KAA membuat ia tak sempat berkeliling kota Bandung. Ia dan enam jurnalis lain dari Mesir harus kembali ke kota masing-masing besok sore. "Tapi suasanya di Bandung cukup enak, sepi, meski agak panas," ujarnya.

    Pengalaman lain dirasakan oleh Jose Miguel Filipe, direktur dokumentasi dan informasi kantor wakil presiden Angola. Ia sudah berada di Indonesia sejak 19 April lalu dan menginap di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

    Perjalanan dari Angola menuju Indonesia memakan waktu sekitar 16 jam, dengan transit di Abu Dabi.

    Ia senang berada di Indonesia karena dinilai ramah dan baik. "Hanya saja orang Indonesia terlalu banyak bicara," ujarnya. Namun ada kesamaan kota Jakarta dengan Luanda, ibu kota Angola. "Kemacetan di Jakarta sama seperti di Luanda. Bikin stress," katanya.

    Ia belum sempat mencicipi makanan khas Jakarta maupun Bandung karena harus segera kembali ke negaranya. Namun, ia berjanji akan menyempatkan mencobanya jika kembali lagi ke Indonesia. Untuk penyelenggaraan KAA, ia menilai sudah berjalan dengan baik.

    ROSALINA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.