Anjurkan Membunuh Presiden Venezuela, Pendeta Amerika Minta Maaf

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Pat Robertson, pendeta konservatif dan bekas calon presiden Amerika Serikat, kembali tersandung pernyataan kontroversial. Ia kini harus meminta maaf, karena menganjurkan pembunuhan terhadap Presiden Venezuela Hugo Chavez."Apakah benar menyerukan pembunuhan? Tidak. Saya minta maaf atas pernyataan itu. Saya berbicara dalam keadaan frustasi," kata Robertson dalam klarifikasi panjang melalui situs internet pribadinya, Rabu (24/8) waktu setempat. Pernyataan yang dihujat berbagai kalangan itu keluar di tengah-tengah ketegangan antara pemerintah Amerika dan Venezuela. Chavez menuduh Presiden Amerika George Walker Bush merencanakan penggulingan dirinya, termasuk percobaan pembunuhan dan kudeta pada April 2002. Pat mengeluarkan pernyatan, yang diduga sebagai anjuran pembunuhan dalam acara televisi, "The 700 Club". Siaran yang ia bawakan itu disiarkan jaringan televisi ABC Family, Senin (22/8) lalu. "Saya tidak tahu doktrin tentang pembunuhan," kata dia dalam siaran itu, "tapi jika dia (Chavez) berpikir kita akan membunuhnya, saya pikir kita harus melakukannya." Ia menyebutkan Venezuela sebagai penguasa minyak, yang bisa menyerang Amerika.Duta Besar Venezuela untuk Amerika Bernardo Alvarez telah meminta Gedung Putih untuk mengecam pernyataan itu. Pemerintah Venezuela juga telah meminta jaminan keamanan bagi Presiden Chavez saat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York, bulan depan. Bukan kali ini saja Robertson membuat kontroversi. Dalam pemilihan presiden tahun lalu, dia secara terang-terangan meminta pengikutnya dan kelompok Koalisi Kristen mendukung Bush. Ia juga menghina umat Islam dan korban angin topan di Amerika, dengan menyatakan bahwa "korban jatuh akibat hukuman Tuhan atas kebejatan moral mereka." John Chuckman, seorang penulis, menyatakan bahwa pemerintah Amerika seharusnya memperlakukan Pat sebagai seorang teroris. Pemerintah juga harus memasukkan acara televisinya dalam daftar organisasi terorisme internasional versi Departemen Luar Negeri. "Setidaknya dia dijerat dengan Undang-Undang Pidato Kebencian," ujarnya. AFP/Faisal

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.