Sejumlah 'Warisan' Lee Kuan Yew bagi Singapura  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew. REUTERS/Edgar Su

    Mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta - Lee Kuan Yew, sosok yang mencorong di Asia pasca-kolonial, mengawasi dengan ketat transformasi kecil Singapura dari sebuah pos tropis Inggris menjadi negara makmur, sebuah kota global, lebih dari satu generasi. Menjadi perdana menteri selama sekitar 30 tahun, ia mewarisi banyak hal yang mempengaruhi wajah Singapura saat ini.

    Perdana menteri Singapura pertama itu, setelah sakit cukup lama, 'meninggal dengan tenang' di Singapore General Hospital pada Senin 23 Maret 2015, pukul 03:18 waktu setempat.

    Lee, pengacara berpendidikan Cambridge, dikenal sangat sedikit memberi toleransi untuk oposisi, namun ia menerapkan demokrasi seperti di Barat dengan memberikan hak kepada setiap warga Singapura dewasa untuk memiliki suara dalam pemilihan umum.

    Di bawah Lee, yang dikenal sebagai penggemar berat almarhum mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, oposisi dan media independen tidak diperbolehkan berkembang seperti halnya ekonomi negara itu. Ini yang menyebabkan Singapore berada dalam peringkat 153 dari 180 negara dalam World Press Freedom Index.

    Pendekatan kerasnya termasuk bagi banyak pelanggaran dan penerapan hukuman mati untuk kasus pembunuhan dan perdagangan narkoba. Gugatan hukum  terhadap lawan politiknya dan media adalah salah satu penanda penting dari pemerintahan Lee.

    Ia mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada tahun 1990, menyerahkan kekuasaannya kepada Goh Chok Tong, tapi tetap memiliki pengaruh besar sebagai menteri senior dalam kabinet Goh. Ia menjadi "menteri mentor" ketika anak tertuanya, Lee Hsien Loong, menjadi perdana menteri ketiga Singapura pada tahun 2004.

    Lee mengundurkan diri dari posisi kabinet pada tahun 2011 setelah People's Action Party (PAP), partai yang ikut didirikannya, mengalami kemerosotan dalam perolehan pemilu, yang terburuk sejak kemerdekaan tahun 1965.

    Dengan karakteristiknhya yang terus terang, ia menyarikan warisannya dalam buku "Hard Truths to Keep Singapore Going", yang diterbitkan pada tahun 2011, tepat sebelum pemilu.

    "Tidak relevan bagi saya soal apa pandangan anak muda Singapura tentang saya," kata Lee. "Saya sudah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa Anda mungkin diidolakan selama hidup dan dicerca setelah meninggal."

    Di tengah sikap kerasnya itu, ia harus berjuang untuk menahan air mata ketika Malaysia memutuskan untuk mengeluarkan Singapura dari federasi mereka pada tahun 1965, dua tahun setelah negara kota ini bergabung.

    "Bagi saya itu adalah momen kesedihan sepanjang hidup saya," kata Lee dalam konferensi pers soal itu. "Anda lihat, seluruh kehidupan dewasa saya ... Saya telah meyakini adanya merger dan penyatuan kedua wilayah. Anda tahu bahwa kita, sebagai rakyat, dihubungkan oleh geografi, ekonomi, dan hubungan kekerabatan."

    Namun, Singapura, menjadi sukses besar saat Lee dan partainya, PAP, menyambut investasi asing dan menjadikan Singapura sebagai eksportir utama, yang juga memetik pujian dari negara besar dunia, termasuk Cina. Mantan pemimpin tertinggi China Deng Xiaoping menyebut secara khusus contoh dari Singapura ketika ia memulai reformasi tahun 1992.

    Singapura, yang secara berkala berada di peringkat puncak sebagai tempat terbaik di dunia untuk melakukan bisnis, juga memainkan peran luas dan mendalam dalam kehidupan 5,4 juta warganya.

    Singapura mensubsidi perumahan rakyat, menetapkan aturan untuk melestarikan keharmonisan antara warga Cina, India dan komunitas Melayu dan mengontrol Temasek Holdings, yang memiliki saham di perusahaan-perusahaan besar. Singapura pernah mengalami kerusuhan rasial sangat mematikan pada 1950-an.

    Singapura melarang penjualan permen karet, sebagai bagian dalam upayanya menjaga kebersihan, dan melarang pornografi meskipun melegalisasi industri seks. Negara ini juga menjalankan kampanye publik untuk menggunakan bahasa Inggris yang baik, menjaga kesopanan, kerapihan, dan mendorong agar para profesional yang lajang berkencan.

    Lee, anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga Cina kelas menengah, menempuh pendidikannya di Raffles College Singapura sebelum mendapatkan gelar sarjana hukum dari Cambridge University Inggris.

    Ia menikah dengan pengacara Kwa Geok Choo pada tahun 1950, tahun yang sama saat ia membuat firma hukum Lee & Lee dngan adiknya, Lee Kim Yew. Istrinya meninggal tahun 2010 di usia 89 tahun setelah sakit cukup lama.

    REUTERS | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.