Serangan di Tunisia, Ancaman Teroris 'Menghantui'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turis yang terluka dalam penyerangan di Museum Bardo dievakuasi petugas di Tunis, Tunisia, 18 Maret 2015. Ini merupakan serangan kepada orang asing ini yang terburuk sejak bom bunuh diri Al Qaeda di Sinagoge pada 2002. REUTERS/Stringer

    Turis yang terluka dalam penyerangan di Museum Bardo dievakuasi petugas di Tunis, Tunisia, 18 Maret 2015. Ini merupakan serangan kepada orang asing ini yang terburuk sejak bom bunuh diri Al Qaeda di Sinagoge pada 2002. REUTERS/Stringer

    TEMPO.COJakarta - Pemerintah Tunisia sudah menahan empat orang yang diduga terkait dengan penembakan di Museum Nasional Bardo, Tunis, Tunisia, Afrika. Dan lima orang lagi yang tidak langsung berhubungan dengan insiden itu. 

    "Kami menahan ayah dan saudara perempuan teroris Hatem Al-Khashnawi di rumah mereka di Kota Sbiba," kata sumber Reuters, Jumat, 20 Maret 2015. 

    Pegawai di kepresidenan mengatakan bahwa tentara ditempatkan di jalan-jalan sebagai bentuk pengamanan, menyusul serangan yang mengakibatkan tewasnya 20 turis asing dan 3 warga negara Tunisia. "Setelah pertemuan dengan pasukan keamanan, presiden meminta kota besar dikawal ketat oleh tentara," ujarnya. 

    Setelah runtuhnya masa kekuasaan Presiden Zine El-Abidine Ben Ali pada 2011, Tunisia resmi beralih ke demokrasi dengan sistem pemilihan langsung. Mereka menjalani konstitusi baru dengan kompromi politik antara partai Islam dan sekuler. 

    Namun petugas keamanan terus berperang atas kelompok militan Islam, termasuk Ansar al Sharia, yang masuk daftar teroris oleh Washington, dan Okka Ibn Nafaa—seorang brigadir yang berafiliasi dengan Al-Qaeda—sebagai pejuang yang beroperasi di Gunung Chaambi sepanjang perbatasan Aljazair. 

    Konsuler politik Indonesia untuk Tunisia, Yubil Septian, mengatakan, setelah revolusi tahun 2011, pemerintahan transisi Tunisia di antaranya menghadapi tantangan dari dalam, yaitu kelompok militan Islam (gerakan Ansar Al-Sharia) yang menimbulkan dua kali krisis politik dan pergantian pemerintahan. Selain itu, menurut Yubil, dalam surat elektroniknya kepada Tempo, pemerintah Tunisia juga menghadapi ancaman dari luar berupa masalah keamanan di wilayah perbatasan akibat peredaran senjata ilegal dari Libya dan infiltrasi kelompok teroris AQIM (Al-Qaeda di wilayah Islam Maghribi) yang berbasis di Aljazair. 

    Ancaman keamanan tersebut mengakibatkan Presiden Tunisia Moncef Marzouki terus memperpanjang status keadaan darurat negara yang dikeluarkan sejak pecahnya revolusi dan baru dicabut pada akhir Juni 2014 setelah pengesahan konstitusi.

    Sebelumnya diberitakan bahwa kelompok militan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) mengklaim penembakan di Museum Nasional Bardo, yang letaknya bersebelahan dengan gedung parlemen Tunisia. Mereka merayakan kegembiraan lewat media sosial.

    REUTERS | MARTHA WARTA SILABAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.