Menghina Budha, Warga Selandia Baru Dikurung Penjara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah biksu Budha menyapu debu dari patung Great Buddha di Kuil Todaiji di Nara, Jepang, 7 Agustus 2014. Buddhika Weerasinghe/Getty Images

    Sejumlah biksu Budha menyapu debu dari patung Great Buddha di Kuil Todaiji di Nara, Jepang, 7 Agustus 2014. Buddhika Weerasinghe/Getty Images

    TEMPO.CO, Yangoon - Pengadilan di Myanmar menjatuhkan hukuman 2,5 tahun penjara kepada seorang manajer bar asal Selandia Baru dua rekan bisnisnya karena dianggap menghina Budha.

    Majelis hakim menuduh ketiga orang itu mengunggah sebuah pamflet ke jejaring media sosial yang memperlihatkan Budha sedang mengenakan headphone.

    Mereka yang dihukum itu adalah Phillip Blackwood, 32 tahun, Tun Thurein, 40 tahun, dan Htut Ko Ko Lwin, 26 tahun. Ketiganya dijatuhi hukuman dua tahun penjara, adapun ganjaran tambahan enam bulan karena mereka dianggap tidak mematuhi perintah sebagai pegawai layanan masyarakat.

    Proses peradilan terhadap manajer V Gastro Bar, Blackwood, pemilik bar Tun Thurein, dan seorang karyawan Htut Ko Ko Lwin berlangsung di negara mayoritas penganut Budha yang sedang meningkat nasionalisme keagamannya, termasuk kekerasan terhadap minoritas muslim di sana.

    Ketiga orang itu ditahan sejak Desember 2014 setelah gambar Budha tersebut digunakan untuk mempromosikan bar melalui Facebook. Cara-cara seperti ini memicu kemarahan umat Budha di Myanmar.

    Meskipun iklan online tersebut sudah dicabut dan pemiliknya meminta maaf, tetapi ketiga lelaki pengelola bar itu tetap ditahan pihak berwajib.

    Menurut Phil Robertson, Deputi Direktur Asia Human Rights Watch, mengatakan mereka seharusnya tidak dijebloskan ke dalam terali bersi. "Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari ekspresi kebebasan," ucap Robertson sebagaimana dikutip Associated Press.

    Hakim Ye Lwin menjelaskan, walaupun Blackwood telah meminta maaf dia telah sengaja merencanakan menghina keyakinan beragama melalui foto yang diunggah.

    Keputusan majelis hakim di Myanmar membuat orang tua Blackwood  mengaku kepada Fairfax Media di Selandia Baru shock.  "Kami berharap akal sehat dapat dimenangkan dan dia dinyatakan tidak bersalah karena itu bukan tindakan berbahaya dan disengaja," ucap Brian Blackwood.

    Saat keputusan pengadilan itu dijatuhkan, sekitar setengah pendeta dan nasionalis Budha hadir di luar pengadilan di jantung Kota Yangon. Usai divonis majelis hakim, Blackwook yang berjalan menuju truk polisi mengatakan kepada wartawan bahwa dia akan mengajukan banding.

    AL JAZEERA | CHOIRUL  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.