Syiah Houthi Mengaku Dapat Bantuan Senjata dari Iran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok pemberontak Houthi berjaga dikawasan istana presiden di Sanaa, Yaman, 20 Januari 2015. Istana Presiden Yaman kini dikuasai pemberontak Houthi. (AP Photo)

    Kelompok pemberontak Houthi berjaga dikawasan istana presiden di Sanaa, Yaman, 20 Januari 2015. Istana Presiden Yaman kini dikuasai pemberontak Houthi. (AP Photo)

    TEMPO.CO, Sanaa – Pemberotak Syiah Houthi yang saat ini secara de facto memegang kekuasaan di Yaman mengaku mendapatkan jaminan bantuan ekonomi dan senjata dari Iran.

    Keterangan tersebut disampaikan salah seorang utusan Houthi setelah mengunjungi Negeri Mullah. “Iran berjanji akan membantu Yaman, mereka akan membangun pembangkit listrik berikut bahan bakar untuk kebutuhan setahun,” ucap, Rajeh Badi, mewakili Houthi.

    Yaman saat ini dalam situasi kisruh politik dan keamanan menyusul kekalahan pasukan pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansur Hadi dari militan bersenjata Houthi yang kini menguasai ibu kota Sanaa.

    Menurut Badi, Houthi banyak mendapatkan keuntungan dari Iran. “Masalahnya sekarang, Iran kesulitan memberikan dukungan militer kepada kami,” ucap Badi.

    Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa, pekan ini, memperingatkan dunia bahwa situasi di Yaman bakal berlangsung seperti di Suriah, Libya, atau Irak jika tidak ada solusi untuk mempertemukan kelompok bertikai di negara itu.

    Utusan khusus PBB untuk Yaman, Jaman Benomar, mengatakan kepada Al Jazeera, Kamis, 13 Maret 2015, ada sebuah fakta yang membahayakan di sana. Menurutnya, Yaman terancam perpecahan dan perang saudara.

    Sebelumnya, Benomar bertemu dengan kelompok bertikai di Yaman guna memecahkan krisis di negeri itu.

    “Jika tidak ada kesepakatan di antara kelompok bertikai, maka prospek Yaman sangat suram. Ada kombinasi skenario seperti di Suriah, Libya, dan Irak. Skenario itu sangat mengerikan dan semua pihak harus membuat kesepakatan damai demi masa depan Yaman.”

    Pengambialihan kekuasaan oleh Houthi juga menimbulkan sentimen keras di wilayah selatan negara. Peristiwa ini dapat mengulang perang saudara sebagaimana berlangsung pada 1994. Ketika itu warga selatan yang sebelumnya merdeka ingin melepaskan diri dari utara.

    AL JAZEERA | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.