Hari Wanita Sedunia, Lagi, Ini Perempuan Pilihan Facebook  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para tentara wanita berfoto bersama, di depan meriam untuk memperingati hari perempuan internasional. Cardiff Castle , Wales, Inggris, 8 Maret 2015. Richard Martin-Roberts / Getty Images

    Para tentara wanita berfoto bersama, di depan meriam untuk memperingati hari perempuan internasional. Cardiff Castle , Wales, Inggris, 8 Maret 2015. Richard Martin-Roberts / Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tanggal 8 Maret untuk memberikan perhatian pada pencapaian perempuan dan menunjukkan tingkat kesetaraan perempuan saat ini. Seluruh dunia turut memperingati hari sakral yang mendorong kesetaraan jenis kelamin tanpa ada lagi diskriminasi.

    Tak ketinggalan situs sosial media raksasa Facebook. Perusahaan milik Mark Zuckenberg ini mendengar beberapa cerita hebat tentang keterhubungan yang kaum perempuan lakukan setiap harinya dan merangkumnya menjadi 12 wanita pilihan. Mereka membawa dampak positif pada komunitas tempat mereka berada dan secara global telah memotivasi perempuan di belahan dunia lainnya untuk melakukan hal serupa.

    Kalki Subramaniam
    Subramaniam adalah seorang penulis, artis, pembuat film, dan aktivis transgender dari Auroville, Tamil Nadu. Dia menjadi perempuan transgender pertama yang membintaingi film di India pada 2011. Semasa hidupnya, Subramaniam mengalami diskriminasi di sekolah, tetapi dia sukses mendapatkan dua gelar pendidikan master.

    Subramaniam mendorong murid-murid yang kebetulan merupakan transgender untuk tetap melanjutkan sekolah mereka. Dia memimpin Sahodari Foundation, sebuah organisasi untuk memberdayakan dan mengedukasi kaum transgender di India. Subramaniam menyuarakan aspirasi kaum transgender dan hak perempuan di penjuru dunia dan fokus berjuang untuk mempersatukan komunitas trangender.

    Carol Rossetti
    Rosetti adalah perempuan Brasil yang telah bekerja membuat karya seni rupa untuk menggambarkan isu-isu penting yang dihadapi oleh perempuan di seluruh dunia. Rossetti memuat karyanya setiap hari di Facebook. Suatu hari di bulan April 2014, dia tergerak melihat pelecehan terhadap perempuan gemuk di Brazil dan mengangkat isu ini dalam karyanya. Rossetti menggambar sebuah karakter, Marina, untuk mempertanyakan keputusan seseorang dalam mengkritik tubuh perempuan.

    Pesan pemberdayaan yang disampaikan Rossetti, yaitu “kenakanlah apa yang nyaman bagimu dengan tubuhmu sendiri”, merebut perhatian banyak perempuan di Facebook. Dia pun memposting karya lain yang berhubungan dengan perempuan setiap harinya. Proyek ini dinamakan Women. Lebih dari 200 ribu orang terhubung dangan Facebook Page Carol, di mana dia mem-posting dengan bahasa Portugis, Spanyol, dan Inggris. Women, buku yang terdiri dari kumpulan karya-karyanya, akan terbit musim semi ini.

    Azmat Khan
    Wanita ini berprofesi reporter investigasi berkebangsaan Amerika yang saat ini bekerja untuk BuzzFeed News, yang mengangkat berita-berita mengenai ketidaksetaraan yang terjadi di seluruh dunia. Khan tumbuh besar diantara komunitas Muslim kecil di Grand Rapids, Michigan. Pengalaman masa kecilnya ini membuatnya menjadi tertarik pada hak sipil dan komunitas yang termarjinalkan.

    Saat mengerjakan tesis S2 untuk studi perempuan di Oxford University, Khan pun terinspirasi untuk terjun ke dunia jurnalisme sebagai salah satu cara agar dirinya dapat menjangkau lebih banyak orang dengan berbagai isu penting. Melalui sebuah berita yang dia tulis untuk Al Jazeera America, Khan menceritakan mengenai kekerasan seksual yang dialami oleh mahasiswa penyandang cacat.

    Dia kemudian menggunakan Facebook Groups untuk mencari sumber dan mengetahui lebih lanjut tentang apa saja yang mereka alami. Kini, Khan meliput Afganistan karena yakin bahwa dengan berbagi pengalamannya di berbagai tempat yang pernah dikunjunginya ia bisa mengatasi kesalahpahaman akibat perbedaan kultur.

    Sukki Singapora
    Wanita yang satu ini adalah seorang penari burlesque, sekaligus aktivis dari Goodman Road di timur Singapura. Sukki menjadi wanita pertama yang menarikan burlesque secara terbuka pada Februari 2015. Mempelajari balet sejak kecil dan melalui kecintaannya pada tarian dan gaya vintage, dirinya menemukan burlesque.

    Hal tersebut menjadi motivasi yang kuat untuk mengekspresikan dirinya, namun di negaranya hal tersebut dilarang. Sukki kemudian pindah ke London dan setelah dia memahami mengenai seni burlesque, Sukki menekuni pekerjaan pertamanya dengan tampil di sebuah klub komedi lokal. Sukki memilih nama panggung “Singapora” untuk mengenang sejarahnya.

    Setelah membuat Facebook Pagenya, Sukki mulai menerima banyak pesan dari para wanita di berbagai belahan dunia yang menyatakan kagum akan apa yang dilakukannya untuk mengekspresikan diri dan untuk berjuang demi kesetaraan perempuan. Sukki menyadari bahwa kebanyakan perempuan yang mengirimkan pesan kepadanya berasal dari Singapura yang melihatnya sebagai inspirasi. Banyak juga dari mereka yang butuh masukan tentang pertunjukkan burlesque. Melalui grup ini, anggotanya dapat dengan mudah dan terbuka melakukan diskusi mengenai burlesque, tips dan rencana workshop.

    Gioaia Gottini
    Gioaia Gottini adalah pendiri, sebuah grup pengusaha perempuan Rete al Femminilei di Italia. Gottini
    memiliki cita-cita memberdayakan perempuan untuk mencapai kemandirian finansial. Semua berawal ketika Gottini mengelola bisnis pribadinya di Turin sebagai pelatih karir perempuan dan pernah mengalami kesulitan untuk memulai usahanya sendiri di Italia. Pada Maret 2013, Gottini  membuat Facebook Group untuk terhubung dengan perempuan pekerja lainnya di Turin.

    Melalui pertemuan bulanan yang diselenggarakannya serta dukungan secara online, grup ini pun menjadi sumber informasi yang berharga bagi anggotanya. Setelah mengulas tentang masalah ini di sebuah pembicaraan TEDxWomen tahun 2014, Gioia memutuskan untuk bekerja dengan perempuan di provinsi Italia lainnya dan memulai grup Rete al Femminile di Facebook. Sampai sekarang, sudah ada 30 grup di Italia, walaupun grup-grup tersebut berbeda di setiap kotanya, mereka tetap mengadakan acara reguler dan membantu perempuan lainnya untuk memulai dan memperluas usaha mereka. Gottini  juga telah melihat banyak anggota yang pada akhirnya bertemu dan memulai bisnis bersama.

    Mavis Mendonca Smith
    Wanita ini adalah salah satu pembuat Facebook Group, Win Bangalore Back. Grup ini adalah bentuk respon atas berita tentang anak 6 tahun yang mengalami pelecahan seksual di salah satu sekolah swasta di India bulan Juli lalu. Grup yang dibuat oleh teman Smith, Rajeev Ravindranath, telah memiliki 20 ribu anggota hanya dalam waktu beberapa hari.

    Smith bersama rekan lainnya melakukan demonstrasi yang dikenal dengan nama Red Brigade dimana sekitar 2.000 orang berpartisipasi untuk mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima begitu saja terjadinya kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan di kota mereka.

    Selain demontrasi ada juga pembahasan mengenai bagaimana caranya menghilangkan rasa malu yang dialami korban serta memberikan inspirasi bagi komunitas setempat untuk melawan sikap apatis polisi. Smith mengatakan grup tersebut tidak hanya berhasil meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan perempuan, tetapi juga memperluas komunitas dan forum bagi mereka yang mengingikan Banglore yang lebih baik.

    ANDI RUSLI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.