Netanyahu: Israel Tak Akan Lepaskan Tanahnya ke Palestina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu. AP/Sebastian Scheiner

    Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu. AP/Sebastian Scheiner

    TEMPO.CO, Tel Aviv - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan, Ahad, 8 Maret 2015, bahwa Israel tidak akan menyerahkan wilayah mana pun yang dikuasainya karena iklim konflik saat ini di Timur Tengah. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa ia tak akan mendukung pembentukan negara Palestina.

    Komentar Netanyahu disampaikan saat ia berusaha untuk mendapatkan dukungan menjelang pemilihan nasional pada 17 Maret mendatang. Sikap ini memberikan tanda jelas bahwa Israel, jika dia nanti terpilih kembali menjadi perdana menteri, menolak tujuan utama masyarakat internasional yang berusaha menghidupkan kembali upaya perdamaian Israel dan Palestina.

    "Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa setiap wilayah yang ditinggalkan akan jatuh ke tangan ekstremis Islam dan organisasi teror yang didukung oleh Iran. Oleh karena itu, tidak akan ada konsesi dan tidak ada penarikan. Hal ini sama sekali tidak relevan," demikian pernyataan yang dirilis oleh Partai Likud.

    Kantor Netanyahu juga mengatakan bahwa pernyataan itu mencerminkan posisi lama yang dipegang oleh perdana menteri dari Partai Likud itu.

    Masyarakat internasional telah lama mendorong pembentukan negara Palestina di atas tanah yang diambil oleh Israel dalam perang tahun 1967 di Timur Tengah. Pada 1993, Israel dan Palestina juga menandatangani perjanjian interim yang mengarah ke penyelesaian akhir konflik Israel-Palestina.

    Banyak putaran perundingan perdamaian telah diselenggarakan sejak itu, tapi pembicaraan terbaru tahun lalu berakhir tanpa hasil.

    Pejabat Palestina Saeb Erekat mengatakan Netanyahu menggunakan konflik di Timur Tengah sebagai alasan untuk tak melanjutkan pembicaraan damai. "Hari ini Netanyahu mengungkapkan wajah aslinya," kata Erekat. "Sejak tahun 1993, ia bekerja keras untuk menghancurkan opsi perdamaian dan pilihan untuk solusi dua-negara."

    Menjelang pemilihan umum nasional, partai politik sayap tengah dan kiri di Israel mengatakan mereka mendukung dimulainya kembali upaya perdamaian dengan Palestina. Dalam rally besar yang diselenggarakan di pusat Kota Tel Aviv, Sabtu, 7 Maret 2015 malam, para orator menyebut kebijakan Netanyahu membahayakan Israel sehingga mereka mendesak adanya pergantian pemerintahan. Di antara orator yang berbicara dalam rally itu adalah mantan bos Mossad periode 2002-2011, Meir Dagan.

    ASSOCIATED PRESS | UT SANDIEGO | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.