Serangan ke Night Club Mali, Warga Prancis dan Belgia Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Perancis tiba di bandara Bamako, dalam rangka intervensi militer di Mali (17/1). AP Photo/Jerome Delay

    Tentara Perancis tiba di bandara Bamako, dalam rangka intervensi militer di Mali (17/1). AP Photo/Jerome Delay

    TEMPO.CO, Bamako - Lima orang, termasuk warga negara Prancis dan Belgia, tewas ditembak dalam serangan ke sebuah night club di ibu kota Mali, Bamako. 

    Menurut sumber di Rumah Sakit Gabriel Toure di Bamako, Sabtu, 7 Maret 2015, korban ketiga asal Eropa yang belum diketahui kewarganegaraannya meninggal ketika tiba di rumah sakit. "Dia dibawa ke rumah sakit bersama delapan korban luka lainnya."

    Polisi menjelaskan kepada kantor berita AFP, "Ini serangan teroris, meskipun kami sedang menanti klarifikasi. Laporan sementara jumlah korban yang tewas empat orang, terdiri atas seorang warga Prancis, seorang Belgia, dan dua lainnya asal Mali." Dia menambahkan, satu korban tewas lainnya adalah perwira polisi. "Perwira ini meninggal saat melintas di tempat kejadian."

    Koresponden AFP yang berada di tempat kejadian perkara mengatakan saat ini petugas pemadam kebakaran membawa mayat warga negara Prancis dari La Terrace di Distrik Hippodrome, Bamako, menyusul serangan yang berlangsung dinihari.

    Beberapa saksi mata mengatakan, saat melakukan penyerangan, pelaku meneriakkan "Allahu Akbar."

    Presiden Prancis francois Hollande mengutuk keras serangan brutal ini. Adapun Menteri Luar Negeri Laurent Fabius mengatakan aksi mematikan itu tidak akan mengurangi negaranya memerangi teroris dengan segala bentuk di negeri bekas jajahannya.

    Pejabat intelijen senior di Mali mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa dua orang yang diduga terkait dengan penyerangan ini ditahan. "Kami menahan keduanya."

    AL JAZEERA | BBC | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.