Abbott: Eksekusi Bali Nine Pengkhianatan Terbesar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Australia, Tony Abbott, berbicara soal terorisme di gedung Parlemen Australia, Canberra, 23 Februari 2015. Australia akan memperkuat undang-undang imigrasi dan menindak kelompok yang menghasut kebencian sebagai tindakan kontraterorisme dalam upaya untuk memerangi ancaman terorisme dari dalam negeri. REUTERS/David Gray

    PM Australia, Tony Abbott, berbicara soal terorisme di gedung Parlemen Australia, Canberra, 23 Februari 2015. Australia akan memperkuat undang-undang imigrasi dan menindak kelompok yang menghasut kebencian sebagai tindakan kontraterorisme dalam upaya untuk memerangi ancaman terorisme dari dalam negeri. REUTERS/David Gray

    TEMPO.CO , Canberra: Perdana Menteri Australia Tony Abbott menegaskan, eksekusi mati terhadap dua warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, oleh Indonesia bakal menjadi pengkhianatan terbesar bagi kepentingan nasionalnya.

    Seperti dikutip dari The Australia, 5 Maret 2015, Abbott di hadapan parlemen Australia menjelaskan kritik terkerasnya itu kepada pemerintah Indonesia. Abbott masih berharap hukuman mati terhadap dua narapidana penyelundup 8,2 heroin itu dapat dibebaskan.

    Abbott mengatakan, Australia menginginkan hubungan efektif dan terbaik dengan Indonesia serta mengingatkan posisi internasional kedua negara jangan sampai ternoda oleh eksekusi.

    Ia pun menyerukan Jakarta untuk "menarik kembali putusan" hukuman mati itu. Abbott melanjutkan, ketidakbaikan bisa datang dari kematian.  Indonesia, ia menegaskan, untuk lebih menyadari kepentingan dan nilai-nilai yang terbaik.

    Abbott menyesalkan keputusan Indonesia mengeksekusi Chan dan Sukumaran. Padahal, menurut dia, Chan dan Sukumaran membantu Indonesia dalam memerangi kejahatan narkoba.

    Seharusnya, Abbott berharap Indonesia merehabilitasi kedua terpidana tersebut karena kapasitas sistem hukum pidana Indonesia memungkinkan untuk itu, dan bukan menghukum mati kedua anggota sindikat narkoba Bali Nine ini.

    "Sebagai orang yang tidak menginginkan apapun selain yang terbaik bagi Indonesia, sebagai pemerintah, sebagai parlemen yang tidak ingin apa-apa selain yang terbaik untuk Indonesia, kami berbicara sebagai satu kesatuan dengan apa yang kami bisa untuk menarik kembali keputusan tersebut," ucap Abbott.

    Abbot mengingatkan kepada Indonesia agar jangan hanya memperhatikan soal kepentingan Indonesia sendiri, akan tetapi harus lebih memerhatikan soal norma dan nilai-nilai yang terbaik.

    Pernyataan Abbot juga didukung oleh anggota parlemen Partai Buruh, Bill Shorten, yang mengatakan Chan dan Sukumaran adalah keluarga mereka. Hukuman mati, ujar Bill, tidak akan bisa menyelesaikan apa pun.

    THE AUSTRALIAN | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.