Nutella Larang Gunakan Nama Orangutan, Yahudi, Apa Sebabnya?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas Orangutan (Pongo pygmaeus) di selter Tanjung Harapan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, 14 Januari 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Aktivitas Orangutan (Pongo pygmaeus) di selter Tanjung Harapan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, 14 Januari 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Paris - Perusahaan yang memproduksi selai Nutella membuat kampanye unik untuk mendekatkan brand produk itu dengan konsumennya. Perusahaan berharap konsumen setianya akan menyebarkan rasa antusias mereka mengkonsumsi selai itu kepada orang yang dicintai.

    Bagian marketing perusahaan milik Ferrero ini kemudian membuat kampanye bertajuk "Katakan itu dengan Nutella". Setiap konsumen dapat menuliskan pesan di botol selai yang sifatnya pribadi. Nah, pesan di botol Nutella kemudian dapat diunggah ke sosial media.

    Kampanye untuk menggaet lebih banyak konsumen itu membuahkan bumerang bagi perusahaan ketika muncul kata-kata yang dianggap tidak layak, menghina, melecehkan dan tidak sehat. Perusahaan itu pun kemudian memuat daftar kata-kata terlarang untuk dicantumkan di botol Nutella. Awalnya, kata "lesbian". Kemudian daftar kata-kata terlarang pun bertambah, termasuk kata orangutan, Yahudi, dan muslim.

    Seperti dikutip dari Daily Mail, 2 Maret 2015, kata orangutan dilarang ditampilkan di botol selai Nutella karena perusahaan ini mengkritik perusahaan-perusahaan perkebunan sawit yang diduga merusak habitat dari orangutan. 

    "Istilah negatif atau menghina akan secara langsung dihapus dari daftar pilihan. Demikian pula istilah-istilah dalam masyarakat yang sering bermaksud untuk menyerang orang-orang jahat akan dihapus dari kemungkinan," ujar Ferrero.

    Berita tersebut datang hanya sehari setelah munculnya pemberitahuan dari perusahaan retail Marks dan Spencer yang melarang kata Christ dan Jesus Christ dimuat dalam pesan yang disampaikan lewat karangan bunga.

    Kebijakan tersebut muncul lebih awal setelah seorang pelanggan dilarang membeli karangan bunga seharga 35 euro untuk acara penguburan karena ia ingin menuliskan pesan "Christ Church Teddington".

    Atas larangan ini, Uskup Emeritus Centerbury Lord Carey berujar, "Jika Christ adalah kata yang menyerang dalam ajaran Kristiani, maka kita semua semestinya khawatir".

    DAILY MAIL | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.