MI6 Berupaya Rekrut Mata-mata dari Korea Utara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Markas badan intelijen Inggris MI6, di Vauxhall, London. telegraph.co.uk

    Markas badan intelijen Inggris MI6, di Vauxhall, London. telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, London - Bocoran dokumen intelijen dari Afrika Selatan yang dimiliki Satuan Investigasi Al Jazeera menggambarkan upaya badan intelijen luar negeri Inggris (Secret Intelligence Service-SIS), yang lebih populer dengan sebutan MI6, untuk merekrut aset dari Korea Utara dan menawarinya "hubungan bawah tanah jangka panjang dengan imbalan pembayaran".

    Sebuah kabel yang ditandai "Secret UK/SA eyes only" memperlihatkan bahwa MI6 meminta bantuan Badan Intelijen Afrika Selatan (South Africa's State Security Agency-SSA) untuk melaksanakan "operasi gabungan". Tujuan operasi adalah untuk merekrut mata-mata di dalam sistem pengambilan keputusan Korea Utara.

    Demi keberhasilan operasi ini, dalam kabelnya MI6 menyatakan ia membutuhkan bantuan Afrika Selatan. "Kami meminta dukungan Anda untuk membantu petugas kami," kata kawat rahasia itu. MI6 akan mencegat orang Korea Utara itu saat dalam perjalanan antara penerbangan "dan mendorong dia untuk menerima hubungan jangka panjang dengan SIS".

    Permintaan bantuan yang diminta dari badan intelijen Afrika Selatan adalah "memberikan pengawasan secara diam-diam untuk mengidentifikasi orang Korea Utara itu saat kedatangannya" dan "mengamankan rumah aman-nya sementara agen Inggris melakukan kontak (dari Korea Utara itu)," tulis MI6.

    Badan intelijen Inggris juga meminta Afrika Selatan memastikan petugas MI6 dan target Korea Utara-nya "tidak terganggu oleh salah satu rekan-rekannya". "Keterlibatan pemerintah Afrika Selatan tidak boleh terlihat jelas oleh target sehingga agen kami akan tampak bertindak sendirian".

    MI6 memberikan identitas orang Korea Utara yang menjadi target. Al Jazeera memilih menyamarkan identitas tersebut, untuk keselamatannya. Identitas itu meliputi deskripsi pekerjaan, sejarah karir dan rencana perjalanannya secara rinci, termasuk nomor penerbangannya.

    Kabel rahasia dari Badan Intelijen Afrika Selatan itu juga mengungkapkan bahwa perwira MI6 telah mendekati target tahun sebelumnya, mengadakan pertemuan dua jam dengan dia dan menawarkan uang dalam jumlah yang tidak diungkapkan dalam pertukaran untuk "hubungan klandestin jangka panjang".

    MI6 memberikan "nomor telepon aman" yang dapat dipakai orang Korea Utara itu untuk menghubungi agen Inggris ketika ia memutuskan apakah setuju untuk bekerja dengannya. Target itu "menyatakan bahwa ia akan senang bertemu petugas itu lagi dalam keadaan aman," tulis MI6. "Tapi setahun telah berlalu tanpa kita mendengar kabar dari dia.

    Mata-mata Inggris menyimpulkan permintaan mereka dengan menjelaskan kepada orang-orang Afrika Selatan bahwa mereka menganggap saat ini sebagai "kesempatan yang tidak biasa, yang, jika berhasil, bisa sangat membantu upaya berkelanjutan kami untuk mendapatkan cakupan aktivitas proliferasi Korea Utara". MI6 menulis, "Terima kasih banyak untuk terus-menerus kerjasama Anda terhadap sasaran penting ini, yang kami harap akan meningkat di masa depan".

    Kabel mata-mata yang dimiliki Ajlazeera ini tidak mengungkapkan apakah Afrika Selatan setuju untuk memberikan bantuan yang diminta oleh MI6, apakah operasi gabungan itu berlanjut, dan apakah target menerima tawaran kedua dari intelijen Inggris itu.

    MI6 dan pemerintah Inggris tidak pernah membahas kegiatan badan intelijen di depan umum sehingga dokumen rahasia ini memberi gambaran tentang operasi mereka. Kabel itu memberi rincian terang bagaimana uang pembayar pajak Inggris digunakan untuk secara efektif mendorong target memata-matai atas nama Inggris.

    Inggris mengeluarkan peraturan pada tahun 2010 membuatnya ilegal untuk menyuap pejabat asing. Tapi klausul itu tak berlaku bagi badan intelijen, yang juga memicu protes dari parlemen. Dalam upaya perekrutan orang Korea Utara ini, MI6 tampaknya menawarkan uang dengan sedikit harapan atau tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan informasi dari sumber yang ia rekrut.

    Novelis mata-mata tersojor, Graham Greene, dalam karyanya berjudul Our Man in Havana, menceritakan kisah fiksi seorang pengusaha di Kuba yang menerima tawaran MI6 untuk menjalin "hubungan klandestin jangka panjang dengan imbalan uang". Namun, bukannya menyediakan bahan intelijen murni, pengusaha itu mengambil uangnya dan memberikan informasi palsu kepada MI6.

    Tidak jelas apakah operasi untuk merekrut agen Korea Utara ini membutuhkan persetujuan pejabat publik atau pejabat tingkat menteri di Inggris. Apakah penilaian juga dilakukan sebelum atau sesudah operasi untuk menentukan apakah itu penggunaan yang tepat dari uang publik? Menteri Luar Negeri Inggris mengotorisasi operasi MI6 yang paling berisiko, sementara yang lain didelegasikan kepada pejabat senior di Kementerian Luar Negeri.

    Sebuah komite parlemen, peradilan, dan tim ahli melakukan pengawasan atas badan-badan intelijen Inggris. Anggota parlemen Inggris dan aktivis mengatakan, sistem yang ada saat ini tidak memberikan sistem check and balances yang memadai terhadap mata-mata Inggris. Mereka menyerukan perombakan total sistem pengawasan intelijen saat ini.

    ALJAZEERA.COM | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.