Skandal Pembunuhan Wanita Cantik, PM Malaysia Disorot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak menyambut kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo jelang melakukan pertemuan di kantor perdana menteri Malaysia di Putrajaya, Malaysia, 6 Februari 2015. (AP Photo)

    Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak menyambut kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo jelang melakukan pertemuan di kantor perdana menteri Malaysia di Putrajaya, Malaysia, 6 Februari 2015. (AP Photo)

    TEMPO.CO,Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak kembali menjadi sorotan dalam kasus pembunuhan Altantuya Shaaribuu. Najib membantah tudingan terpidana, mantan komandan polisi Sirul Azhar Omar, yang menyatakan menerima perintah atasan untuk membunuh Altantuya. “Ini total sampah, total sampah,” kata Najib kepada wartawan setelah menghadiri perayaan tahun baru Cina di Wisma Partai Malaysian Chinese Association (MCA), kemarin.

    Pernyataan Najib ini membuat heran tokoh oposisi Malaysia, Lim Kit Siang. “Pertanyaan yang langsung muncul adalah bagaimana Najib tahu bahwa kedua terpidana tidak menerima perintah dari atasan untuk membunuh Altantuya dan menghancurkan bukti dengan meledakkan tubuhnya menggunakan bahan peledak C4?” kata veteran pemimpin partai oposisi Democratic Action Party (DAP) itu seperti dilansir The Malaysian Insider, kemarin.

    Altantuya, model asal Mongolia berusia 28 tahun, tewas secara mengenaskan dengan cara diledakkan dengan C4 di Shah Alam, Malaysia, pada Oktober 2006. Pembunuhannya dicurigai berkaitan dengan skandal pembelian kapal selam dari Prancis pada 2002. Altantuya disebut-sebut sebagai kekasih Abdul Razak Baginda, orang dekat Najib yang bertugas melaksanakan kesepakatan dengan Prancis. Saat kesepakatan, Najib masih menjabat Menteri Pertahanan.

    Sirul dan tersangka lainnya dari satuan elite polisi Malaysia, Azilah Hadri, dituding sebagai pelaku. Dalam wawancara dengan Malaysiakini, pekan ini, Sirul menyatakan hanya menerima perintah atasan untuk membunuh Altantuya. “Saya diperintah. Orang penting yang memiliki motif masih bebas,” katanya.

    Kepada Malaysiakini, Sirul menyatakan atasannya saat itu, Musa Safri, seharusnya dipanggil untuk memberikan kesaksian dalam kasus pembunuhan tersebut. Ketika pembunuhan terjadi pada 18 Oktober 2006, Musa adalah ajudan PM Najib, yang kala itu menjabat Wakil Perdana Menteri. “Dia yang seharusnya diajukan sebagai saksi oleh jaksa,” kata Sirul.

    Pengadilan Tinggi Malaysia sebenarnya membebaskan Sirul pada 2013. Namun keputusan Pengadilan Tinggi ini dibatalkan Pengadilan Federal Malaysia pada 13 Januari lalu.

    THE STAR | MALAYSIAN INSIDER | THE SUN DAILY | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.