Eks Polisi Ungkap Skandal Dugaan Suap PM Malaysia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Najib Razak

    Najib Razak

    TEMPO.CO, SYDNEY - Setelah lama bungkam, akhirnya perwira polisi Malaysia Sirul Azhar Umar membeberkan kasus pembunuhan model asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, yang dilakukannya.

    Dari rumah tahanan Villawood di Sydney, Australia, Sirul memberikan pengakuan bahwa ia  diperintah untuk membunuh Altantuya. Pembunuhan itu dilakukan untuk menutupi kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan sejumlah pejabat top Malaysia.

    "Saya melakukan itu atas perintah orang penting yang memiliki motif pembunuhan dan sekarang masih bebas," kata Sirul yang dulunya pengawal Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak kepada Malaysiakini via telepon.

    Menurut Sirul, Altantuya dianggap banyak tahu tentang praktek suap dalam pembelian kapal selam Sorpene buatan Prancis-Spanyol seharga US$ 2 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Saat itu Najib sebagai menteri pertahanan. Sedangkan Altantuya sebagai penerjemah bagi kedua belah pihak dalam pembelian kapal selam.

    Altantuya yang saat itu sebagai kekasih Abdul Razak Baginda, teman sekaligus penasihat Najib Razak, meminta uang tutup mulut US$ 500 ribu atau sekitar Rp 6,4 miliar.

    Sirul pun kemudian diperintahkan untuk membunuh perempuan yang disebut hidup glamor dan dijuluki sosialita Mongolia.

    Pada 13 Januari lalu, pengadilan tertinggi Malaysia menjatuhkan hukuman mati terhadap Sirul dan satu rekannya Azilah Hadri karena terbukti bersalah membunuh Altantuya. Dalam persidangan hanya Azilah yang hadir, sementara Sirul absen. Pasalnya, beberapa bulan sebelum sidang digelar, Sirul terbang ke Queensland. Hakim pengadilan tertinggi Malaysia memerintahkan keduanya dijatuhi hukuman mati.

    Seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Kamis, 19 Februari 2015, Sirul berencana membongkar pembunuhan Altantuya dari Australia melalui media setempat.

    Sementara Malaysia telah mengambil langkah hukum untuk meminta Australia memulangkan Sirul. Namun dikabarkan Australia akan menolak ekstradisi terhadap pria berusia 43 tahun itu.

    SYDNEY MORNING HERALD | MALAYSIA KINI | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.