Curhat Pilu Keluarga 21 Korban yang Dipenggal ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria berusaha menenangkan istrinya yang merupakan keluarga korban dari pemenggalan warga Kristen Koptik Mesir oleh Negara Islam (ISIS) saat berada di desa El-Our, Minya, Mesir, 16 Februari 2015. REUTERS/Asmaa Waguih

    Seorang pria berusaha menenangkan istrinya yang merupakan keluarga korban dari pemenggalan warga Kristen Koptik Mesir oleh Negara Islam (ISIS) saat berada di desa El-Our, Minya, Mesir, 16 Februari 2015. REUTERS/Asmaa Waguih

    TEMPO.CO, Kairo - Para kerabat korban memanjatkan doa bersama setelah ISIS merilis video pemenggalan 21 warga Kristen Koptik Mesir. Di sebuah gereja tanpa atap di desa miskin di Mesir selatan, kerabat dari para pria yang dieksekusi algojo Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Libya itu berkumpul. 

    Sebelumnya, 21 warga Kristen Koptik Mesir diculik di Libya pada Januari 2015 ketika Libya dilanda kekacauan. ISIS merilis video eksekusi pada Ahad, 15 Februari 2015.

    ”Anak saya berangkat ke Libya 40 hari yang lalu setelah menyelesaikan dinas militernya,” kata Boshra, seorang PNS berusia 50 tahun, yang menceritakan nasib tragis putranya, Kirollos, 22 tahun, yang dieksekusi ISIS, seperti dilansir AFP dan dikutip dari The Malaysian Insider, Selasa, 17 Februari 2015.

    ”Dia pergi mencari uang untuk biaya pernikahan,” Boshra berkisah. ”Dia menikah di surga, di mana ia akan bertemu dengan Kristus.” Para kerabat korban ISIS lainnya menangis meratapi nasib keluarga mereka.

    Warga Kristen Koptik adalah kaum minoritas di Mesir. Jumlah mereka hanya sekitar 10 persen dari total penduduk negara itu. Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi sudah memerintahkan militernya untuk membalas perbuatan ISIS itu. Senin, 16 Februari 2015, sekitar 40 milisi di Libya tewas dibombardir pesawat jet tempur Mesir.

    THE MALAYSIAN INSIDER | WINONA AMANDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.